ADA APA DENGAN MUKIDI?

awangsurya.com-Siapa nama tokoh paling populer yang berawal huruf  ‘M’? Mukidi!

Kalau yang berhuruf awal ‘Y’? Ya Mukidi

Kalau yang berhuruf awal ‘P’? Pasti Mukidi

 

Begitulah guyonan untuk menggambarkan situasi belakangan. Nama Mukidi memang beberapa hari belakangan mendadak populer di tengah masyarakat, terutama kalangan netizen. Tokoh fiktif ini seolah menjelma sebagai satrio piningit yang kehadirannya ditunggu-tunggu.

 

Mengapa Mukidi menjadi terkenal? Ada beberapa alasan. Yang pertama, Mukidi hadir sebagai tokoh yang lucu dan tak jarang konyol. Mukidi tampil dengan segenap keluguan dan bahkan kebodohannya. Inilah yang disukai banyak orang. Hari ini sebagian besar media massa dipenuhi oleh berita tokoh-tokoh yang sibuk dengan pencitraan. Mereka berlomba menonjolkan diri seolah tidak ada cacat pada diri mereka. Mukidi hadir menjadi antitesis dari perilaku ini. Ia mewakili perasaan hati sebagian besar masyarakat yang sudah nek dengan pertunjukan kesombongan. Mukidi adalah wujud perlawanan dari mainstream yang mendominasi ruang publik.

 

Jika di tengah masyarakat pertunjukan keangkuhan bertebaran maka pasti akan muncul “Mukidi-mukidi” lain sebagai wujud protes. Ada kelompok pecinta motor tertentu yang sengaja tampil jorok. Motor butut dengan karat di sekujur tubuh motor itu dilengkapi dengan aneka sampah yang bergelantungan di sana-sini. Mereka sengaja melawan arogansi kelompok motor lain yang suka pamer kemewahan dan kekuasaan. Yaitu kelompok pemilik motor berharga selangit yang dengan kawalan aparat bisa seenak udelnya mengangkangi jalan milik bersama dan memaksa pengguna jalan lain minggir tanpa alasan yang masuk akal. Kelompok yang juga bisa menerobos jalan tol dan lampu merah tanpa pernah tersentuh hukum.

 

Ada juga kelompok anak punk yang tampil dengan dandanan aneh-aneh. Rambut dengan potongan duri landak dengan aksesori di telinga, hidung dan bagian tubuh yang lain. Anak-anak yang hidup tanpa aturan ini sengaja berhadapan dengan kalangan jet set yang mempertontonkan gaya hidup hedonis tanpa peduli dengan kesulitan sebagian masyarakat. Kelompok-kelompok yang untuk sekali makan saja bisa mengeluarkan biaya satu bulan gaji karyawan pabrik. Kelompok yang selembar bajunya seharga baju satu keluarga rakyat jelata.

 

Yang kedua, Mukidi adalah tokoh dalam kisah lucu atau humor. Jika hari ini Anda bertemu dengan seseorang yang memandang gadget sambil senyum-senyum maka kemungkinan besar ia sedang membaca humor Mukidi. Humor memang menjadi obat bagi masyarakat yang tengah galau.

 

Diakui atau tidak masyarakat kita saat ini sedang galau. Beragam persoalan urusan ekonomi dan sosial yang terus menghimpit membuat beban hidup semakin lama semakin berat. Harga-harga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau. Biaya sekolah dan kesehatan yang semakin menjulang. Serta biaya-biaya lain yang terus bergerak naik. Itu semua menghantui benak sebagian besar masyarakat terutama kelas bawah. Mereka butuh pelarian dari kesulitan-kesulitan hidup. Maka humor menjadi sarana yang bisa melupakan dari persoalan kehidupan meski hanya sejenak.

 

Pada dasarnya, masyarakat kelas bawah adalah bagian yang paling rentan dari persoalan ekonomi dan sosial. Merekalah yang paling butuh guyonan sebagai penghibur. Maka tengoklah panggung kesenian masyarakat kelas bawah seperti ludruk, ketoprak dan sejenisnya yang selalu akrab dengan humor. Di dalam lakon serius sekalipun selalu saja humor bisa ditemukan di sana.

 

Belakangan tekanan hidup tidak hanya monopoli masyarakat kelas bawah. Kalangan menengah yang relatif melek pendidikan juga terkena. Rutinitas hidup masyarakat terdidik perkotaan yang serba terburu-buru adalah sebuah tekanan tersediri. Berangkat pagi-pagi buta dan pulang ke rumah malam-malam gelap. Berkejar-kejaran dengan kemacetan di jalan adalah makanan sehari-hari. Belum lagi beban target pekerjaan yang seperti tidak ada ujungnya. Semua itu membuat kalangan terdidik itu membutuhkan hiburan.

 

Saat membuka media online yang didapatkan adalah berita-berita dan intrik-intrik politik seputar persaingan perebutan kekuasan. Seolah tidak ada lagi ketulusan di dalam pergaulan bermasyarakat. Semua harus dikait-kaitkan dengan dukung mendukung dan pilih memilih. Pertemanan bisa menjadi renggang hanya karena beda pilihan politik. Lambat-laun timbul kejenuhan. Maka humor Mukidi hadir menjadi solusinya. Bersama Mukidi, semua bisa tertawa bersama tanpa ada udang di balik batu.

 

Jadi, jika hari ini angka bunuh diri di Indonesia masih tergolong rendah itu bukan karena tingkat kesejahteraan masyarakat yang cukup tinggi, tapi karena ada Mukidi. Wah…. untung ada Mukidi!

 

*) Awang Surya, penulis dan pembicara publik, tinggal di Bogor

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian Duta Masyarakat

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*