YANG LUPUT AKU SYUKURI

Anak-anak saya mungkin sama dengan anak Anda. Mereka akan melalui masa corat-coret. Yaitu, saat mereka gemar sekali mencoret apa saja dan di mana saja. Ini terjadi beberapa tahun lalu saat kedua anak lelaki saya masih belum genap berusia 10 tahun. Saat itu boleh dikata tiada hari tanpa mencoret. Dan uniknya media coretan kedua jagoanku itu adalah tembok ruang tamu kami.

Apa saja bisa jadi alat mencoret bagi anak-anakku itu. Pensil, pulpen, spidol, crayon, arang, bahkan semir cair pun bisa jadi alat untuk mencoret. Kadang mereka menggambar binatang, kadang juga menggambar mobil. Ada coretan menyerupai bentuk gedung juga ada coretan berbentuk pesawat. Tentu saja semua coretan itu tidak jelas bentuknya. Hanya anak-anak itulah yang bisa menyebutnya ini gambar anu dan itu gambar apa.

Melihat dinding ruang tamu penuh coretan yang terkesan jorok itu tentu saja saya tidak suka. Ingin saya mencegahnya, tapi tidak tega. Muncul perasaan tidak enak  manakala ada tamu datang berkunjung ke rumah. Mendapati tamu-tamu tersenyum sambil memandangi tembok rumah kami yang kumuh itu tentu bukan sebuah pengalaman bermutu. Maka saya dan istri pun segera sepakat untuk menyisihkan anggaran guna mengecat dinding ruang tamu itu. Lukisan-lukisan abstrak karya anak-anak itu dengan cepat musnah oleh warna putih cat tembok. Tetapi setelah proses pengecatan dinding ruang tamu itu tuntas, kami terhenyak. Rupanya kecepatan anak-anak kami menggambari kembali dinding yang tampak putih bersih itu sama cepatnya dengan kecepatan tukang-tukang mengecatnya.

Tak mau berulang-ulang menahan malu di hadapan tamu-tamu, kami akhirnya membangun saung di halaman yang ada di sebelah kiri rumah. Maka sejak saat itu ruang tamu kami berpindah, tidak lagi di dalam rumah tapi di saung, di luar rumah. Tentu saja setiap kali ada tamu kami terpaksa selalu berusaha meminta maaf dan menjelaskan alasan mengapa ruang tamu kami di luar rumah.

Kini anak-anak saya sudah besar. Dan tidak mencorat-coret tembok lagi. Kalau mereka ingin mencoret mereka melakukan di kertas. Tapi kami sudah terlanjur tidak punya ruang tamu. Tidak ada kursi tamu atau sofa di sana. Juga ruang tamu sudah kadung berubah menjadi ruang kerja. Maka tidak ada pilihan, kami tetap menerima tamu di saung sembari terus meminta maaf atas ketidaknyamanan ini.

Setelah terbiasa dengan ruang tamu di luar rumah, diam-diam saya mulai menyimak jawaban yang diucapkan tamu-tamu kami atas permintaan maaf kami. Ternyata hampir semua tamu kami itu mengungkapkan kalimat yang seragam. “Enak ya punya saung.” Begitu kira-kira kalimatnya. Awalnya saya menanggapi biasa saja kalimat itu. Mungkin mereka hanya berbasa-basi agar kami tidak merasa bersalah karena kurang menghormat tamu.

Saya tersadar saat ada seorang kawan lama yang datang bertamu. Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Karena suatu keperluan dia bertamu. Dan tentu saja saya menerimanya di saung di sebelah rumah.

“Enak ya… saya sudah lama pengin punya tempat begini,” tukas kawan itu.

Saya hanya tersenyum. Biasa, tamu perlu basa-basi. Begitu pikir saya.

Saya terpaksa memikirkan serius kalimat yang diucapkan kawan itu esok harinya. Mengapa? Tiba-tiba saja kawan itu datang lagi tanpa janjian sebelumnya. Dan kali ini ia datang dengan istri tercintanya. Dan yang saya tidak sangka sang istri menjelaskan bahwa ia sengaja datang untuk melihat saung kami sebagaimana diceritakan suaminya.

“Suami saya pengin saung kayak ini loh!” ungkap istri kawan itu dengan mimik serius.

Deg! Ini serius, pikirku.

Rupanya ruang tamu di luar rumah itu tidak perlu membuat kami malu, malah harus kami syukuri karena ternyata banyak orang yang menginginkannya. Diam-diam saya merasa bersalah. Mengapa untuk bisa bersyukur atas pemberian-Nya saja harus dikirimkan banyak orang untuk mengingatkan.

Kini, bila ada pemberian Tuhan yang serasa berat untuk diterima saya akan berusaha bersabar, sembari mencari-cari sisi lainnya. Jangan-jangan hal yang saya anggap tidak menarik ini ternyata mengundang rasa iri banyak orang.

*) Awang Surya: motivator spiritual, tinggal di wilayah Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*