YANG MENOLONG TIDAK AKAN RUGI

Bagi Anda yang menekuni dunia usaha mungkin sudah sangat paham bahwa salah satu hal penting bagi kelangsungan usaha adalah tenaga kerja. Karyawan keluar mendadak adalah masalah yang sangat mengganggu. Saya pun mengalaminya beberapa kali.

Pernah, dua orang karyawan di rumah makan saya menghilang saat baru saja menerima gaji. Padahal beberapa saat sebelumnya saya ngobrol panjang lebar dengan mereka. Saya bertanya apakah mereka kerasan dan jika tidak apa masalahnya. Mereka berdua menjawab betah dan tidak ada masalah. Aneh!

Pernah juga saya merekrut karyawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Sepasang suami istri, tetangga di kampung. Informasi yang sampai ke saya mereka berdua sudah pengalaman menjalankan rumah makan di beberapa kota. Maka saat mereka meminta gaji di atas rata-rata saya pun mengiyakannya. Semua fasilitas yang diminta juga saya penuhi. Tapi mereka hanya bertahan satu bulan.

Saat masalah ini saya ceritakan kepada kawan yang punya usaha sejenis ternyata dia juga mengalami masalah yang serupa. Bahkan lebih parah. Berkali-kali rumah makannya terpaksa tutup karena semua karyawan bareng-bareng keluar.

Mendengar penuturan kawan itu saya bersyukur karena meski berkali-kali ditinggal pergi secara mendadak oleh beberapa karyawan tapi tidak sampai harus menutup lapak. Memang di antara karyawan saya ada sepasang suami istri yang sejauh ini masih betah. Mungkin sudah hampir 3 tahun mereka berdua membantu saya. Bila ada karyawan yang kabur secara tiba-tiba rumah makan tetap buka karena masih ada mereka berdua.

Sejujurnya saya mendapatkan dua orang karyawan itu secara tidak sengaja. Ini berawal dari kunjungan silaturahim ke seorang ustadz di daerah Pandeglang Banten. Saat itu sang Ustad meminta tolong kepada saya untuk memberi pekerjaan kepada adiknya – sebut saja Ahmad- yang saat itu sedang nganggur.

Saya tidak langsung mengiyakan permintaan itu karena memang sedang tidak butuh karyawan. Malahan saya berencana mengurangi karyawan karena overhead sudah terlalu besar. Saya minta waktu seminggu kepada sang Ustadz untuk berpikir.

Satu minggu kemudian saya mengambil keputusan. Saya terima Ahmad. Niat saya hanya satu bahwa saya ingin menolong. Saya sudah siap dengan segala resikonya, termasuk biaya yang semakin membengkak. Mudah-mudah saja suatu saat ada manfaatnya, pikir saya.

Rupanya niat baik itu selalu mendapat ujian. Hari-hari awal kedatangan Ahmad banyak menimbulkan masalah. Beberapa kebiasaan kecil yang dibawa dari kampung dirasa mengganggu karyawan yang lain. Sebisa-bisanya saya berusaha memberi pengertian karyawan yang lain.

Belakangan terbukti Ahmad adalah seorang yang terampil dan cepat belajar. Dengan cepat ia menguasai seluruh urusan rumah makan. Maka sewaktu ada tenaga kerja yang mengundurkan diri saya meminta Ahmad untuk mengajak istrinya agar dia kerasan.

Seiring berjalannya waktu, Ahmad dan istrinya telah menjadi tenaga kerja utama di rumah makan saya. Kini saya bisa tetap menjalani hobi menulis dan juga mengisi training sampai ke luar kota dengan tenang karena ada Ahmad dan istrinya. Jadi sebenarnya siapa menolong siapa ini?

Saya sering merenungkan kejadian ini untuk mengingatkan diri bahwa menolong orang lain itu tidak akan pernah ada ruginya. Saya semakin yakin akan pesan Baginda Rasul dalam sebuah hadits:

Allah akan senantiasa menolong Hamba-Nya, selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya (HR. Muslim)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*