SERIGALA YANG KAKINYA PATAH

Seorang pemburu tengah menunggu buruan dengan senapan. Tak lama kemudian, sekelabat seekor binatang melintas. Secepat kilat senjata sang pemburu menyalak. Sang pemburu yakin tembakannya mengenai sasaran. Maka dikejarnya binatang itu. Binatang itu tidak akan mampu berlari jauh karena sudah terluka, pikir sang pemburu.

Benar, dalam jarak beberapa ratus meter sang pemburu melihat seekor serigala yang kakinya patah karena baru saja terkena tembakan. Pemburu itu berhenti. Ia mengamati serigala itu dari kejauhan.

“Serigala itu tidak bisa lagi mengejar mangsa. Ia pasti akan mati kelaparan karena kakinya patah,” desis sang pemburu.

Tidak lama kemudian, tampak seekor beruang hutan yang membawa bangkai binatang dan berhenti tidak jauh dari serigala. Beruang itu kemudian makan dengan lahap. Tetapi, beruang itu tidak menghabiskan makanannya. Ia kemudian meninggalkan sisa bangkai binatang itu begitu saja. Maka, dengan terseok-seok serigala yang kakinya patah kemudian mendekati bangkai binatang itu untuk dimakannya. Hari itu serigala yang kakinya patah tidak keparan.

Esok harinya, sang pemburu kembali masuk ke hutan. Ia ingin melihat apakah serigala itu sudah mati. Tetapi ternyata, yang terjadi benar-benar di luar dugaan sang pemburu. Beruang hutan itu datang lagi dengan membawa bangkai binatang dan menyisakan lagi. Lagi-lagi serigala itu akhirnya bisa makan.

Kejadian itu terus berulang. Sang pemburu pun tertegun.

Tuhan memang adil, beruang hutan itu sengaja dikirim Tuhan untuk memberi makan kepada serigala yang kakinya patah. Begitu yang ada di pikiran sang pemburu. Maka sang pemburu segera pulang. Ia tak mau lagi berburu binatang. Ia yakin Tuhan maha adil.

Esok harinya sang pemburu hanya berdiam di rumah. Ia berharap ada seseorang yang datang memberinya makanan kepadanya, seperti serigala yang kakinya patah. Tetapi sampai malam hari tak seorang pun datang ke rumahnya.

“Mungkin besok seseorang akan datang dengan membawa makanan,” ucapnya penuh harap.

Hari terus berlalu, tapi tak ada seorang pun yang datang dengan membawa makanan. Sang pemburu kecewa. Tuhan tidak adil.

Dengan perasaan marah sang pemburu datang ke padepokan tempat dia pernah berguru. Ditemui orang bijak yang selama ini banyak menasihatinya. Diceritakannya panjang lebar apa yang telah dialaminya kepada sang guru.

“Guru, ternyata Tuhan tidak adil!” protes sang pemburu. “ Mengapa serigala yang kakinya patah itu diberi makan tetapi aku tidak?”

Sang guru tersenyum. “Tuhan telah memilihmu menjadi beruang hutan. Tapi mengapa engkau malah ingin menjadi serigala yang kakinya patah?”

Sang pemburu tersentak.

OOO

Pembaca budiman, kehadiran kita di dunia ini bukan tanpa tujuan. Ada peran besar yang hendak Allah titipkan kepada kita. Khalifah fi al- ardl, begitu istilah yang sudah sering kita dengar. Kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi, itulah peran yang diharapkan akan diemban oleh setiap individu. Dan untuk itu Allah telah memberikan berbagai perangkat untuk mendukung peran besar itu. Tidak ada seorang pun yang kekurangan bekal untuk menjadi “pengganti Tuhan di muka bumi”.

Semenjak lahir ke muka bumi, kita semua ini adalah para juara. Sebelumnya, di dalam rahim ibu terjadi persaingan antara ratusan juta sel sperma yang akan membuahi satu sel telur.  Dari ratusan juta itu, hanya ada satu sel sperma yang berhasil. Satu sel itulah yang akan menjadi seorang anak manusia. Sisanya akan mati. Satu sel sperma yang telah memenangkan persaingan dengan ratusan juta pesaing itu adalah kita!

Maka seharusnya tidak perlu ada seseorang yang takut menghadapi kehidupan di dunia ini. Karena semenjak terlahir kita adalah para juara. Tidak perlu ada seorang adak Adam yang pesimis karena dia adalah para pemenang.

Tetapi sayangnya, sebagian orang lupa bahwa dirinya adalah juara. Mereka tidak pernah berani bercita-cita tinggi. Mereka lebih memilih menjadi anggota masyarakat kelas inferior daripada kelas superior. Mereka lebih suka menjadi buruh daripada menjadi juragan. Mereka lebih suka menjadi pencari kerja daripada pemberi kerja. Mereka lebih suka menerima gaji daripada memberi gaji. Mereka lebih suka menjadi “serigala yang kakinya patah”.

Puasa Ramadhan hadir untuk mengingatkan bahwa kita punya peran besar sebagai kepanjangan Tuhan, sebagaimana beruang hutan yang membawakan makanan untuk serigala yang kakinya patah. Selama bulan Ramadhan kita mengurangi makan dan di akhir bulan Ramadhan kita memberikan kepada orang lain yang lain, yaitu fakir miskin.

Maka seharusnya, momen puasa Ramadhan akan melahirkan “beruang-beruang hutan” yang mampu membawakan makanan untuk “serigala yang kakinya patah”. Jika tidak maka barangkali benar apa yang disinyalir oleh Rasulullah berabad-abad yang lalu: “Banyak orang berpuasa tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”

Wallahu a’lam bi shawab.

 

Awang Surya

Motivator Spitual Indonesia

Untuk seminar, training dll call:

Ibu Melly 0857 1947 3596

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*