URGENSI AMPUNAN ALLAH


ampunan-Allah

Al Insanu Mahallul khata’ wan nissiyan, manusia adalah tempat salah dan lupa. Artinya tidak ada seorang pun manusia yang hidup di bumi, dari mulai Adam as sampai sekarang ini yang terlepas dari kesalahan. Tidak heran jika di tengah masyarakat ada suatu ungkapan bahwa kesalahan itu adalah hal yang manusiawi. Ini menandakan bahwa kesalahan adalah ciri utama dari manusia.

Tetapi meski pun kesalahan adalah sesuatu yang lazim, bukan berarti kesalahan adalah sebuah perbuatan yang bebas konsekwensi. Di dalam kehidupan ini setiap perbuatan yang dilakukan hari ini pasti akan dipanen hasilnya oleh pelakunya di hari esok. Siapa yang menanam akan menuai, begitu kata pepatah yang sangat populer. Seorang yang berbuat dosa atau kesalahan sama artinya dengan menanam benih keburukan yang akan dipanen kelak.

Siapa pun pasti ingin sukses dan bahagia di dunia dan akhirat. Untuk itu banyak berbuat kebaikan dan menghindari kesalahan adalah kuncinya. Sayangnya, tidak ada pribadi yang bisa terlepas dari kesalahan atau dosa. Maka diperlukan upaya untuk mencegah dampak buruk dari kesalahan atau dosa yang sudah terlanjur dilakukan.

Langkah utama dalam rangka memutus dampak buruk dari kesalahan adalah mengembalikan kepada Allah swt karena hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Hal ini sesuai dengan Al-Quran surah al-Hadid ayat 5.

Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.

Setiap pelaku kesalahan harus memohon ampunan kepada Allah swt, yang di antaranya dengan beristighfar.  Kata istighfar sendiri berasal dari kata ghafara – yaghfiru yang berarti menutupi sesuatu. Sebagian ulama memaknai istighfar sebagai upaya menutup dampak buruk dari dosa.  Saat seseorang beristighfar sebenarnya ia sedang memohon agar Allah berkenan menutup dosa yang terlanjur ditanam agar tidak berkembang menjadi keburukan di masa depan.

Ampunan Allah swt begitu penting bagi kehidupan, tidak hanya di akhirat tetapi selama di dunia ini. Seseorang yang telah mendapat ampunan dari Allah swt pasti akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia. Mari simak baik-baik firman Allah swt di dalam Al-Quran surah Nuh ayat 10 sampai 12.

Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Perhatikan, jika Allah sudah memberikan ampunan maka berbagai rahmat akan Allah turunkan. Di antaranya hujan yang dengannya tanaman bisa tumbuh dan berbuah. Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak yang merupakan sumber kesenangan. Juga kebun-kebun yang merupakan sumber mata pencaharian dan sungai-sungai yang merupakan sumber kehidupan.

Tetapi apakah semua orang yang beristighfar akan meraih ampunan? Tentu tidak.

Abdul Wahid bin Zaid, sahabat Hasan Al-Bashri, menjelaskan bahwa istighfar adalah tobat. Dan tobat itu adalah satu kata untuk enam makna yaitu menyesali dosa yang telah lalu, tidak melakukan dosa di masa datang, menjalankan semua kewajiban yang pernah ditinggalkan, mengembalikan nama baik dan harta yang pernah diambil secara dzalim dari orang-orang lain, menghancurkan semua daging dan lemak tubuh yang tumbuh dari barang haram sehingga tulang dan kulit kembali semula, dan memaksa badan untuk merasakan pahitnya ketaatan seperti saat ia merasakan manisnya kemaksiatan.

Perhatikanlah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar istighfar yang dilakukan dalam rangka meraih ampunan itu benar-benar diterima Allah. Bukan istighfar yang sekedar numpang lewat di bibir tanpa meninggalkan apa-apa.

 

*) Awang Surya

Penulis dan Motivator Spiritual

Hp. 0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*