CERITA INSPIRATIF: DOA TUA

Sore itu Sueb dan Sobur, dua orang pemuda desa sedang asyik ngobrol di teras masjid. Mereka membicarakan amalan yang akan mereka lakukan untuk mengisi kegiatan sehari-hari.

“Eb, gimana kalo kita berkunjung ke kiai-kai sepuh,” ajak Sobur.

“Untuk apa?” tanya Sueb.

“Kiai-kiai sepuh itu kan sering kali punya amalan atau doa-doa yang banyak diamalkan oleh orang-orang kuno dulu.”

“Memang mengapa harus nyari doa-doa orang jaman dulu?”

“Kan orang-orang kuno itu terbukti hidupnya lebih mudah daripada kita yang jaman sekarang ini,” jelas Sobur. “Buktinya mereka lebih sehat dan awet muda daripada orang-orang sekarang.”

“Hmm…. bener juga sih,” Sueb setuju dengan ajakan Sobur sahabatnya.

Dua orang pemuda itu kemudian mengajak beberapa orang lagi untuk bersama-sama sowan ke seorang kiai sepuh untuk minta amalan dan doa-doa. Bersama kurang lebih sepuluh orang pemuda mereka mampir ke rumah Bahlul untuk mengajaknya pergi ke pesantren seorang kiai sepuh yang tinggal di desa sebelah.

“Wah, kalau doa orang-orang kuno mah saya juga punya,” ucap Bahlul setelah mendapat penjelasan rencana kepergian mereka.

“Ah yang bener, Kang Bahlul?!” Sobur tak percaya.

“Eh, enggak percaya ya sudah….. .” Bahlul menjawab enteng.

“Apa doanya?” tanya Sueb.

“Nih, dengarkan!…. Robbanaa dlolamnaa anfusana wa illam taghfirlana watarhamnaa lana qunannaa minal khosirin….. .”

“Yaah….. itu mah sudah sering kita dengar, Kang!” teriak beberapa orang pemuda itu bersama-sama.

“Saya malah tiap habis shalat membaca doa itu, Kang!” Sobur turut memprotes.

“Terus kenapa?” Bahlul tak mengerti.

“Itu bukan doa orang-orang kuno!” jawab Sueb.

“Lho itu doa Nabi Adam,” jawab Bahlul. “Memang ada orang yang lebih kuno dari Nabi Adam?!” ungkap Bahlul setengah bertanya.

Hah?!!

***

Kata ‘tua’ jika dirangkai dengan kata tertentu cukup punya daya pikat tersendiri. Kota tua misalnya, selalu menghadirkan nuansa dan pengalaman eksotis bagi para pengunjungnya. Maka tak heran hampir setiap negeri punya tempat unggulan untuk menarik wisatawan yang berupa kota tua. Demikian pula buku tua, gereja tua, mobil tua dan masih banyak lagi tua tua yang lain, yang tak kalah kuatnya membetot minat.

Di dalam khasanah spiritual juga berlaku daya magis kata ‘tua’. Ada ilmu tua, ada amalan tua dan juga doa tua. Disebut tua karena ia dikenal sejak zaman nenek moyang, bukan temuan manusia modern. Dan selalu yang tua itu dipersepsi punya tuah yang lebih daripada amalan atau doa-doa yang dikenal secara luas.

Di masyarakat Jawa banyak dikenal jenis puasa yang juga dikenal sebagai amalan tua. Ada puasa mutih, yaitu seseorang yang ngelakoni amalan tidak makan apa-apa kecuali nasi putih dan air putih saja. Itu pun tidak boleh ditambah bahan apapun termasuk gula dan garam. Sebelum melakukan puasa ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dan membaca mantra tertentu.

Ada juga puasa ngebleng. Puasa ini dilakukan dengan menghentikan segala aktifitas sehari-hari. Pelaku puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah atau kamar, kecuali hanya untuk buang air saja. Waktu tidur harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada malam hari tidak boleh ada satu lampu yang menerangi kamarnya. Kamarnya harus gelap gulita.

Tetapi kalau ditelisik lebih dalam, sebenarnya yang banyak dikenal dengan ilmu tua atau doa tua itu juga tidaklah tua-tua amat. Karena sebenarnya mereka berasal dari jaman kerajaan di Nusantara. Dan yang pasti jauh lebih muda dari jaman para nabi. Maka kalau tingkat ketuaan suatu amalan bisa mewakili tingkat kedigdayaannya maka pastilah doa nabi Adam paling cespleng. Adakah manusia lebih kuno dari nabi Adam?

Persoalan kita sebenarnya lebih dari sekadar siapa lebih tua, tetapi siapa yang lebih layak diteladani. Bukankah Al-quran sudah menyampaikan :

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” Q.S. al Ahzab : 21

Ayat di atas menegaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW, yang sekaligus nabi terakhir, ada contoh yang baik bagi ummatnya. Kalau saja kita mencontoh segala perilaku dan amal perbuatan Rasulullah maka itu sudah cukup untuk menyelamatkan hidup kita. Tak ada alasan untuk tidak menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Mengambil teladan dari siapapun juga sah-sah saja, hanya saja perlu dipastikan mutu sang teladan itu. Adakah bisa dipastikan bahwa sang teladan itu benar-benar layak diteladani? Sementara Rasulullah SAW sudah ada garansi dari Sang Pembuat kehidupan.

So, masih perlu yang lain?

 

[1] Q.S. al Ahzab : 21

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*