CERITA INSPIRATIF: PERBEDAAN ITU RAHMAT

Sudah beberapa Ramadhan ummat Islam di desa Bahlul memulai puasa pada hari yang berbeda. Demikian pula tahun ini. Yang warga Muhammadiyah memulai pada hari Sabtu sedangkan yang NU memulai puasa pada hari Minggu. Hal ini membuat resah beberapa orang pemuda yang merasa diri mereka bukan NU dan bukan Muhammadiyah. Juned dan Salman adalah dua orang di antaranya.

Sore itu sambil menunggu saat berbuka puasa Juned dan Salman duduk di beranda masjid.

“Sudah berberapa Ramadhan kita selalu begini ya, Man… Warga desa kita memulai puasa tidak bersamaan,” ucap Juned.

“Iya, jadi enggak enak,” balas Salman.

Salman dan Juned memang pantas merasa resah karena perbedaan awal puasa itu telah membuat sekat-sekat di antara warga. Shalat tarawih pun akhirnya terpisah menjadi dua kelompok. Demikian pula shalat ied. Dan parahnya ada sebagian warga yang menyalah-nyalahkan kelompok lain. Sedih.

Bahlul yang tiba-tiba datang langsung ikut nimbrung ke dalam pembicaraan dua orang pemuda itu.

“Apa perlu kita lakukan, Kang Bahlul?” tanya Juned.

“Memangnya kenapa kalau kita berbeda?” Bahlul ganti bertanya.

“Ya enggak enak…..,” Juned menjawab.

“Ya kan kalau sama kan lebih enak, Kang…..,” tambah Salman.

“Justru perbedaan itu harus kita syukuri!” ujar Bahlul.

“Kok malah disyukuri?!” Salman dan Juned bingung.

“Perbedaan itu rahmat!” ungkap Bahlul.

Bahlul tidak salah. Rasulullah pernah bersabda, Ikhtilaafu ummaty rahmah. Perbedaan di antara umatku adalah rahmat. Jadi perbedaan dalam mengawali puasa tahun ini seharusnya menjadi rahmat bukan laknat.

“Apanya yang rahmat, Kang?” Salman terus bertanya.

Bahlul tampak berpikir.

“Hmm…. bukankah para ustadz sering mengatakan bahwa malam lailatul qadar itu akan jatuh malam ganjil,” Bahlul berusaha menjawab.

“Terus hubungannya dengan awal puasa yang berbeda?” Juned tak mengerti.

“Karena ada yang mulai Sabtu ada yang Minggu, jadinya bulan Ramadhan tahun ini semua malam jadi malam ganjil!” tukas Bahlul sambil nyengir.

Hah?!!….

***

Barangkali sudah suratan takdir kita dilahirkan di negeri yang penuh dengan perbedaan. Entah berapa banyak jumlah suku yang ada di negeri ini. Tak terhitung juga bahasa daerah yang ada di bumi pertiwi ini. Walau sama-sama suku Jawa tapi masing-masing daerah punya ciri khas yang membuat mereka mudah dikenali karena bahasanya. Jawa Timur misalnya, meski mayoritas warga provinsi itu suku Jawa tetapi tak sepenuhnya bahasanya seragam. Bahasa orang Surabaya tak sepenuhnya sama dengan orang Madiun, demikian pula dengan orang Banyuwangi.

Ada banyak perbedaan-perbedaan lain di negeri tercinta ini, yang itu semua semakin membuat kita mencintainya. Bukankah menariknya kegiatan karnaval budaya yang sedang marak di beberapa kota, juga menggeliatnya wisata kuliner di negeri ini karena adanya perbedaan itu pula? Apa indahnya menonton karnaval yang semua pesertanya seragam? Alangkah membosankan jika semua tempat-tempat wisata kuliner menyajikan menu yang seragam?

Tak ada yang perlu disesali dari perbedaan, karena memang ia sebuah keniscayaan. Menyeragamkan jalan pikiran semua orang adalah sebuah kemustahilan. Kepala sama hitam isi hati siapa tahu, begitu kata pepatah. Boleh saja secara fisik sama tetapi jalan pikiran bisa berbeda. Dan boleh saja kita sama-sama muslim tapi pandangan kita terhadap sesuatu sangat mungkin berbeda.

Mari sama-sama membuka catatan sejarah penyebaran agama Islam di negeri ini. Para wali yang mulia itu tak luput dari perberbedaan pendapat. Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga juga pernah berbeda pendapat dalam menyikapi adat istiadat yang sudah ada di masyarakat Nusantara sebelum datang Islam. Tapi perbedaan itu tak mengganggu silaturahim antar mereka.

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. QS. Maryam – 95

Setiap diri bebas memilih jalan hidup sendiri-sendiri karena setiap diri juga akan mempertanggungjawabkan pilihannya secara sendiri-sendiri. Tidak ada istilah kelompok dan organisasi di hadapan pengadilan hari akhir.

Maka daripada sibuk menyalahkan kelompok lain, lebih baik saling berlomba berbuat baik. Bukankah persaingan itu dibutuhkan agar setiap diri ingin menjadi yang terbaik? Lihatlah yang berlaku di dunia bisnis. Kehadiran pesaing merupakan sesuatu yang dibutuhkan, karena dengan adanya pesaing akan timbul suasana perlombaan menjadi yang terbaik. Malah, beberapa pemilik perusahaan besar sengaja membeli perusahaan pesaing hanya agar sang pesaing tidak mati. Karena jika sang musuh mati, maka perusahaan sendiri juga akan mati pelan-pelan.

Bahkan, Roger Enrico mantan CEO Pepsi, perusahaan minuman ringan pesaing Coca cola, pernah bilang, “Peperangan bisnis harus dilihat sebagai pertempuran tanpa darah. Tanpa Coca-Cola, Pepsi akan menghadapi kesulitan karena harus senantiasa tampil orisinal. Kalau Coca-Cola tidak ada, kami justru berharap suatu hari nanti akan ada orang yang mendirikan perusahaan seperti itu.”

Nah, mari beramai-ramai fastabiqul khoirot agar perbedaan tetap menjadi rahmat bukan laknat!

2 Comments

  1. Luar biasa Pak sangat inspiratif, menggugah hati saya pak.
    Salam Sukses dari Narwoko.
    Koordinator Seksi Pelatihan dan Pendidikan
    Karang Taruna Unit RW. 08
    Kp. Bojong Kaso, Cileungsi Kidul.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*