CERITA INSPIRATIF ISLAM: MENJAGA SANDAL

Bahlul pulang shalat jumat dengan wajah murung. Sandal yang baru dibeli beberapa hari diembat pencuri. Ia pun berjalan tanpa alas kaki sampai di rumah. Tiba di rumah, Muniroh menatap dengan penuh keheranan ke wajah Bahlul yang bagai kain tak disetrika.

“Kenapa wajahmu kusut begitu, Kang?” tanya sang istri.

“Sandalku hilang, Roh….,” jawab Bahlul lemah.

“Aduh, Kang… itu kan sandal mahal,” keluh istrinya. “Makanya kalau naruh sandal itu ditempat yang aman!”

Bahlul hanya diam menunduk. Ia merasa sudah meletakkan sandal di tempat yang aman jauh dari incaran pencuri, tetapi tetap saja sandalnya hilang. Mungkin si pencuri sengaja mengicar sandal Bahlul karena harganya mahal. Atau jangan-jangan si penduri tahu pemilik sandal itu Bahlul yang tak akan memperpanjang urusan.

Hari ini Jumat. Kembali Bahlul diliputi perasaan was-was. Ia kembali memakai sandal baru saat ke masjid. Kali ini Bahlul bertekad tidak ada lagi kehilangan sandal. Ia sudah membuat rencana jitu agar kejadian itu tidak terulang. Bahlul berangkat lebih awal. Selembar sajadah berwarna merah bergambar ka’bah terselempang di pundak.

Sampai di masjid jamaah belum banyak. Hanya beberapa orang. Bahlul tidak masuk ke masjid. Ia menggelar sajadahnya di halaman teras masjid. Ia meletakkan sandalnya di depan sajadah.

“Lul, kenapa di sini?” sapa Pak Sholeh seorang pengurus masjid yang baru datang.

“Enggak apa-apa, Pak!” jawab Bahlul.

“Di dalam masih longgar, ayo masuk!”

“Di sini juga longgar kok, Pak,” balas Bahlul.

“Waduh gimana sih kamu ini, Lul?!” ujar Pak Sholeh. “Masa kamu enggak ingat pesan Rasulullah bahwa yang shalat jumat itu yang terbaik itu di shaf terdepan. Shaf terdepan itu pahalanya sama dengan berkurban unta, Lul!”

“Di sini juga banyak pahalanya, Pak!”

“Banyak gimana?!” Pak Sholeh enggak mengerti.

“Di sini pahalnya dobel, Pak….”

“Dobel?”

“Pertama pahala shalat… dan ke dua pahala menjaga sandal agar tidak dicolong maling!” jelas Bahlul.

“Ah, terserah kamulah, Lul!” sahut Pak Sholeh sambil menginggalkan Bahlul.

***

Cinta selalu punya sifat dua sisi mata uang. Ia bisa menjadi sumber kegembiraan sekaligus penderitaan. Lihatlah seorang pecinta burung perkutut, pagi-pagi sekali hatinya sudah berbunga-bunga hanya dengan mendengar suara khas si burung kesayangan. Padahal suara itu di telinga awam tak bedanya dengan suara perkutut lain. Malah bagi orang-orang yang sama sekali tak punya cita rasa kepada suara burung, suara perkutut yang berharga ratusan juta dengan suara burung gereja tidak ada bedanya.

Tapi selain kegembiraan yang didapat, burung perkutut itu juga menjadi sumber penderitaan bagi sang pecinta. Hanya gara-gara si burung lagi malas bernyanyi saja sang pecinta bisa pusing seharian. Segala aktivitas menjadi terganggu. Bila si burung sakit deritanya terasa merasuk ke dalam raga pemiliknya. Apalagi bila burung kesayangan itu sampai mati, wah…. bisa lebih gawat akibatnya.

Siapa yang mencintai sesuatu akan menjadi budak sesuatu itu, begitu ungkapan yang sering kita dengar. Manakala kita mencintai sesuatu, maka serta merta kita terikat dengan sesuatu itu. Kita juga harus menanggung konsekwensi dari cinta kita. Maka jangan mudah jatuh cinta karena ia selalu punya ongkos yang tak murah. Lebih-lebih mencintai dunia.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”  HR. Ibnu Majah

Peringatan Rasulullah dalam hadits di atas patut menjadi renungan. Cinta dunia akan membawa akibat yang tak ringan. Tercerai-berainya urusan dan kemiskinan adalah akibat yang ditimbulkannya. Mencintai dunia laksana minum air laut, makin diminum makin kehausan. Maka tak heran para pecinta dunia akan hari-harinya akan makin sibuk. Urusannya akan makin menggunung. Dan pasti ia akan makin merasa miskin karena begitu yang ini ada di genggaman akan muncul hal baru yang menuntut untuk digenggam pula.

Sudah tabiatnya dunia, makin dicintai ia akan makin menggelisahkan, semakin dimiliki semakin memayahkan. Lihatlah kelakuan Bahlul! Hanya karena takut kehilangan sandal Bahlul rela shalat di luar masjid. Tawaran pahala besar di dalam masjid tak dipedulikan, yang penting sandal tetap aman. Dasar Bahlul!

Ah…. jangan-jangan kita diam-diam sudah serupa dengan Bahlul. Hanya gara-gara meeting dengan klien kita rela kehilangan shalat berjamaah. Lantaran mengejar mega proyek kita rela melabrak rambu-rambu halal haram. Hanya karena meraih posisi kita melakukan manipulasi. Lalau siapa yang lebih bahlul?

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*