MEMBACA RAPOR ANAK KITA

Beberapa hari ini anak-anak kita sedang libur sekolah. Sebelumnya beberapa hari lalu para orangtua datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak-anaknya. Mungkin Anda termasuk di antara para orangtua yang hadir ke sekolah untuk keperluan itu.

Pembaca budiman, saat menerima rapor anak, bagian mana dari rapor yang paling banyak mendapat perhatian pertama dari para orangtua di Indonesia? Ya, pasti bagian yang menunjukkan ranking. Bila ternyata di kolom ranking itu tertulis angka 1, 2, 3 atau maksimal 5, maka para orang tua akan bergembira. Mungkin dilanjutkan menulis status di Facebook. Sebaliknya, bila di kolom ranking itu tertulis angka besar misalnya 20, 21 atau yang lebih besar, maka para orang tua akan berduka. Yang ini pasti tidak akan menulis status di Facebook. Malu.

Mengapa orang tua bergembira bila anaknya mendapat ranking bagus dan berduka bila ranking anaknya rendah? Masing-masing punya alasan. Tetapi secara umum masyarakat kita berpendapat bahwa anak-anak yang nilainya bagus di sekolah akan punya masa depan cerah. Sebaliknya anak-anak yang nilai rapornya jelek itu masa depan suram alias MADESU! Benarkah hal ini?

Pembaca budiman, tidak sulit untuk membuktikan benar tidaknya pendapat ini. Mari sama-sama kembali ke masa sekolah dulu. Kita semua tentu masih ingat teman-teman yang selalu juara dan teman-teman yang nilainya rendah di masa sekolah dulu. Lalu perhatikan kehidupan teman-teman kita saat ini. Apakah teman-teman kita yang hari ini sukses itu semuanya dulu sewaktu sekolah nilainya jempolan? TIDAK! Demikian pula tidak semua teman-teman yang dulunya sewaktu sekolah nilainya bagus hari ini sukses di dalam kehidupan nyata.

Ternyata rapor sekolah telah terbukti gagal membaca masa depan anak. Nilai akademik tidak pernah bisa mencerminkan masa depan seorang anak manusia. Bahkan sudah banyak fakta yang membuktikan keadaan sebaliknya. Bill Gates, salah seorang yang namanya selalu masuk daftar 10 orang terkaya di dunia pernah berkata, “Saya sering tidak lulus di beberapa ujian. Seorang teman saya selalu lulus. Dan teman saya itu akhirnya menjadi Insinyur. Kini dia bekerja di Microsoft. Saya pemilik Microsoft.” Jadi sebenarnya yang hebat itu Bill Gates atau temannya? Anda pasti bisa menjawab.

Ada sebuah buku yang sangat menarik. Judulnya: Why A Students Work for C Students? Buku ini mengungkapkan fakta yang sangat menarik. Bahwa ternyata anak-anak klasifikasi A, yaitu yang sewaktu sekolah nilainya selalu bagus, sebagian besar jadi karyawan swasta. Siswa klasifikasi B, yang nilainya rata-rata, sebagian besar jadi pegawai negeri. Dan yang kalisifikasi C, yaitu anak-anak yang hari ini bikin malu sebagian besar orang tua karena nilainya buruk ternyata sebagian besar jadi pengusaha. Akhirnya, di dunia nyata anak-anak yang kelas A itu ternyata cuma jadi karyawannya anak-anak kelas C.

Jadi Bapak Ibu, Anda suka anak yang klasifikasi A atau C?

Para orang tua yang berbahagia, percayalah anak-anak kita adalah para juara. Mereka bisa lahir ke dunia ini adalah bukti bahwa mereka itu makhluk pilihan. Kita semua pernah belajar tentang proses sebelum kelahiran. Saat terjadi pembuahan di dalam rahim, ada sekitar 200 sampai 300 juta sel sperma yang saling berebut untuk membuahi satu sel telur. Terjadi persaingan sengit antar ratusan juta sel sperma. Dari ratusan juta sel sperma itu hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur itu selanjutkan akan tumbuh menjadi anak manusia. Itulah yang akhirnya jadi anak kita. Jadi sudah pasti anak kita adalah para JUARA!

Pembaca budiman, rapor anak kita tidak bisa mengukur semua sisi bakat anak kita. Hanya beberapa faktor yang diukur. Ada banyak hal lain yang tidak bisa diukur. Maka tetap percayalah bahwa semua anak kita punya MASA DEPAN CERAH. Percayalah!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*