JEBAKAN PRESTASI ANAK

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak menjadi orang sukses di masa depan. Untuk itu banyak orang tua menginvestasikan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Banyak orang tua risau bila ternyata melihat nilai rapor sang anak jeblok. Bagi mereka itu sinyal bahwa masa depan anak-anak mereka suram alias MADESU.

Sebagian besar orang tua kemudian memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang punya nilai rapor merah. Mereka kemudian memanggil guru ke rumah. Atau mengirim anak-anak ke tempat-tempat les. Bila perlu tujuh hari dalam se-minggu sang anak harus belajar agar nilai mata pelajaran yang merah berubah menjadi lebih baik.

Langkah-langkah seperti di atas sepintas lalu terlihat mulia dan bagus. Tetapi sebenarnya tidak selalu bagus. Beberapa anak akhirnya terpaksa belajar mata pelajaran yang sama sekali tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Itu semua hanya karena kebetulan bakat dan minatnya tidak ada nilainya di rapor. Bahkan dalam banyak kasus anak terpaksa belajar hanya karena ingin menyenangkan orang tuanya. Boleh jadi prestasi anak akan terdongkrak, tetapi ini justru langkah awal malapetaka bagi anak di masa depan.

Setiap manusia yang lahir adalah pribadi yang unik. Semua sudah memiliki bakat dan minat yang berbeda. Inilah yang disebut fitrah. Seseorang yang terpaksa belajar dan bekerja di bidang yang bukan menjadi minat dan bakatnya tidak pernah akan menyukainya. Dan jika sudah begitu dia tidak akan pernah menjadi pribadi yang bahagia!

Mari sama-sama kita baca riwayat hidup manusia jenius berikut ini.

Namanya William James Sidis, atau lebih sering dipanggil Sidis. Dialah manusia paling jenius yang pernah ada di muka bumi. Ia diketahui memiliki IQ 250 – 300. Jauh mengalahkan Eisntein, Newton dan Hawking. Wow!!

Sejak kecil Sidis dikenal memiliki otak yang super encer. Di usia 9 tahun sang ayah mendaftarkannya ke Harvard University. Dan pada usia 16 tahun mendapat gelar Bachelor of Arts dengan predikat Cum Laude. Pada usia 17 tahun Sidis sudah menjadi sisten dosen sambil mengambil program doktoral. Beberapa guru besar di kampus menyebut bahwa Sidis adalah calon Matematikawan dan ilmuwan besar di masa datang.

Para orang tua, menurut Anda akan jadi apa anak ini di masa depan? Sidis meninggal di usia 46 tahun sebagai PEMULUNG!

Apa yang terjadi dengan Sidis?

Dalam kesempatan berbicara dengan wartawan Sidis pernah menyampaikan bahwa ia sangat membenci Matematika, sesuatu yang telah melambungkan namanya selama ini. Ternyata popularitas dan kehebatannya di dalam bidang Matematika telah membuatnya tersiksa. Ia tidak pernah BAHAGIA!

Sidis akhirnya menyadari bahwa kehidupannya adalah hasil pemolaan orang tuanya. Ia seperti kelinci percobaan dari ayahnya. Ia kemudian memutuskan untuk lepas dari pengaruh ayahnya. Tapi kesadaran itu sudah terlambat.

Para orangtua yang terhormat…..

Saya pernah mengalami kejadian yang dialami Sidis, meski dalam tensi yang berbeda. Saya terlahir dengan bakat dan minat yaitu menulis dan berbicara. Saya suka berbicara di depan umum sejak kecil. Usia SMP saya juara lomba pidato. Saya juga berani tampil stand-up comedy sejak kelas 1 SMP. Saya juga bisa berceramah dan khutbah ketika masih kelas 1 SMA. Sayangnya, bakat dan minat saya itu tidak ada nilainya di rapor.

Lingkungan saya, termasuk Bapak saya, berpendapat bahwa anak yang punya masa depan itu adalah anak yang jago Matematika. Maka, saya pun terpaksa mati-matian belajar Matematika. Dan akhirnya saya benar-benar jagoan Matematika.

Kepandaian dalam mata pelajaran Matematika itu mengantarkan saya kuliah di Fakultas Teknik. Saya kemudian menjadi Insinyur dan selanjutnya bekerja di dunia industri dan keteknikan. Sejak itulah saya mulai menyadari bahwa saya hidup bukan pada bidang yang saya cintai. Saya kemudian berpindah-pindah perusahaan. Sampai 7 kali berganti perusahaan.

Diam-diam saya selalu berdoa kepada Allah agar segera dikeluarkan dari dunia yang menyesakkan dada itu. Alhamdulillah, lima tahun sudah Allah selamatkan saya. Hari ini saya menjalani kehidupan sebagai motivator dan penulis. Inilah dunia yang membuat saya bergairah. Saya bersedia menulis tanpa dibayar. Saya mau berceramah tanpa dibayar. Saya lakukan itu semua dengan sepenuh hati.

Tapi yang aneh, mengapa sekarang semua orang membayar saya untuk melakukan itu semua? Bahkan bayarannya MAHAL LAGI!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*