PARADOKS KEHIDUPAN

Sudah beberapa hari ini Muniroh tampak kusut. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya. Padahal hari-hari sebelumnya dia selalu tampak ceria.

“Kenapa toh, kok cemberut terus?” goda Bahlul kepada istri tercinta.

“Habisnya Kang Bahlul enggak mau ngajak aku piknik!” jawab Muniroh ketus.

“Hahaha…… lha wong gitu saja kok cemberut toh, Roh…..”

“Masak cuma kita yang tidak piknik,” lanjut Muniroh. “Semua tetangga kita sudah piknik…. Dik Darji kemarin juga jalan-jalan sama istrinya ke kota,” jelas Muniroh dengan menyebut nama adik iparnya.

“Ya sudah, besok kita piknik….”

“Asyik…..!” teriak Muniroh sambil memeluk dan mencium suaminya tercinta, Bahlul.

Esok harinya, pagi-pagi sekali Muniroh sudah mandi dan berdandan cantik. Ia juga sudah memasak untuk bekal di perjalanan. Hari itu ia akan diajak Bahlul untuk piknik. Dan beberapa saat kemudian sudah terlihat Bahlul dan Muniroh berboncengan naik sepeda motor butut. Di stang motor itu terselip tikar pandan.

Sepanjang jalan Bahlul dan Muniroh selalu bercanda. Terdengar tawa renyah Muniroh. Dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit Bahlul menghentikan motor.

“Kenapa berhenti di sini, Kang?” Muniroh penasaran.

Tanpa berkata-kata Bahlul menuntun motornya menuju sebuah pohon yang teduh. Diambil tikar yang dibawa dari rumah. Di gelarnya tikar itu. Bahlul segera selonjoran di tikar sembari menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi.

“Kang, kenapa berhenti di sini!” suara Muniroh mulai meninggi.

“Kita sudah sampai, Roh…..,” jawab Bahlul sembari tiduran. “Coba lihat sawah-sawah yang dipenuhi padi yang hijau itu. Di kejauhan itu tampak gunung yang indah. Suara gemericik air di sungai kecil itu sungguh terasa damai. Alangkah indahnya tempat ini, Roh.”

“Tapi ini bukan tempat rekreasi, Kang!”

“Lho siapa bilang?” sergah Bahlul. “Pemandangannya bagus begini kok….. Udaranya juga suejuuk.”

“Tapi kan tempat ini enggak jauh dari rumah kita, Kang….. Kita juga enggak perlu bayar kalau ke sini, Kang,” ungkap Muniroh panjang lebar.

“Oalaa, Rooooh….. jadi yang namanya piknik itu harus jauh dan bayar toh!”

Muniroh diam. Bahlul bingung.

***

Pembaca budiman, rutinitas kehidupan manusia modern memang unik. Tuntutan kehidupan membuat sebagian orang harus berangkat pagi saat hari masih gelap, dan pulang malam hari saat hari kembali sudah gelap. Sebagian orang itu amat jarang melihat matahari. Begitu padatnya jadwal pekerjaan sehingga mereka kekurangan waktu untuk kegiatan lain. Bahkan juga kekurangan waktu untuk memperhatikan kesehatan tubuh mereka sendiri.

Barangkali inilah salah satu yang menyebabkan banyak manusia modern rentan sakit. Beberapa penyakit yang beberapa tahun lalu hanya mengidap pada orang usia lanjut kini pengidapnya semakin muda. Saya jadi teringat kata-kata dari salah seorang Filosof F.M Voltaire: “Kita mengorbankan kesehatan di setengah kehidupan untuk mencari uang, kemudian mengorbankan uang untuk meraih kembali kesehatan di setengah kehidupan yang lainnya”.

Kini kebutuhan untuk melepaskan penat di badan dan pikiran menjadi lebih tinggi. Maka tak heran saat ada tanggal merah di kalender setiap orang berburu untuk bersantai sejenak. Mereka segera memenuhi tempat-tempat rekreasi. Mereka tinggalkan kantor. Mereka tinggalkan beban pekerjaan yang selama ini menindih pikiran. Dan yang lebih unik, untuk melepaskan penat itu mereka harus meninggalkan rumah.

Yang terjadi sungguh menarik. Untuk berwisata orang desa perlu pergi ke kota, sementara orang kota perlu pergi ke desa. Orang gunung berwisata ke pantai, sementara orang pantai harus ke gunung untuk berwisata. Sungguh aneh tapi nyata.

Di dekat perumahan saya ada satu tempat wisata yang sangat terkenal, Taman Buah Mekarsari. Setiap hari libur jalanan macet karena rombongan bus dari luar kota. Mereka semua mengorbankan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk menikmati wisata di tempat itu. Tapi anehnya, saya yang tinggal dekat dengan tempat itu kok tidak berminat untuk berwisata di tempat itu. Beberapa kali saya pernah masuk karena menemani keluarga atau teman yang datang dari jauh.

Jadi sebenarnya, untuk mendapatkan kegembiraan sebagian orang hari ini harus mendapatkan apa yang tidak mereka miliki. Yang namanya piknik itu harus mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Selain itu namanya bukan piknik.

Hidup memang aneh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*