KACAMATA SANG PEMENANG

Pernakah Anda sakit gigi? Jika tidak perhatikan cerita saya. Saat sakit gigi menyerang jangan bayangkan rasa sakitnya. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana rasa sakit yang saya rasakan. Meski hanya salah satu dari gigi yang sakit tapi sanggup membuat semua organ tubuh mendadak tidak berfungsi. Seolah semua bagian dari tubuh ini rusak dan sakit. Dari ujung kaki sampai ujung rambut mendadak terasa sakit semua. Tidak ada bagian yang lolos dari rasa sakit.

Yang lebih mengerikan, saat sakit gigi menyerang, semua yang ada disekitar saya mendadak menjadi salah ruang dan waktu. Melihat anak-anak tertawa, yang hari-hari kemarin adalah sumber kegembiraan, kini berubah menjadi sumber derita. Tawa anak-anak itu seperti tawa ejekan kepada bapaknya yang tengah sakit. Masakan istri menjadi salah semua. Tidak ada yang terasa nikmat. Padahal itu adalah masakan yang selama ini saya gemari. Seorang tetangga yang tengah memutar musik keras-keras, yang biasanya bisa saya ikuti setiap lagunya dengan kegembiraan, tiba-tiba seperti menjadi ajang pamer bagi saya. “Mentang-mentang punya sound system bagus seenak sendiri pamer ke tetangga!” begitu gerutu saya.

Pendek kata tak ada yang baik saat saya sakit gigi. Tetapi apakah semua keadaan benar-benar tidak baik sewaktu saya sakit gigi? Tidak! Semua itu menjadi buruk karena keadaan saya yang sedang buruk.

Begitulah yang berlaku kepada kita secara umum. Kala kita mengenakan kacamata biru serta merta semua yang kita lihat menjadi biru. Demikian juga jika kita ganti dengan warna lain, maka dunia berubah warna sesuai kacamata yang kita kenakan. Maka benar kata Stephen R. Covey, penulis dan motivator hebat itu :

“Kita melihat dunia tidak sebagaimana adanya,

tetapi sebagaimana adanya kita.”

 

Jangan remehkan cara pandang Anda terhadap fakta dan keadaan yang ada, karena itu menunjukkan kualitas Anda. Dan kualitas Anda pada gilirannya akan menentukan nasib Anda. Orang-orang yang selalu melihat segala keadaan dengan di sekitarnya buruk akan cenderung bernasib buruk. Sebaliknya mereka yang bisa melihat bahwa keadaan di sekitarnya baik cenderung akan bernasib baik.

Untuk lebih jelasnya mari perhatikan kisah berikut ini:

Suatu ketika sebuah perusahaan sepatu terkenal hendak memasuki wilayah pemasaran baru. Mereka mengirim dua orang sales untuk melihat peluang pasar di wilayah kabupaten baru itu. Dua orang sales itu mendatangi kantor kabupaten. Di sana mereka mendapati data bahwa 90 persen penduduk kabupaten itu sudah punya sepatu.

Sales A melihat data itu dengan sudut pandang negatif. Kalau 90 persen warga sudah sudah punya sepatu berarti yang akan membeli sepatu tinggal 10 persen. Angka 10 persen sangatlah kecil. Untuk apa memasuki wilayah yang calon pembelinya hanya 10 persen ini?

Sementara itu, temannyayaitu salesman B berbeda. Menurutnya kalau 90 persen penduduk kabupaten itu sudah punya sepatu itu artinya sebagian besar warga sudah tahu apa itu sepatu. Menjual sepatu di wilayah yang orang-orangnya sebagian besar sudah tahu sepatu pasti sangat mudah.

Pembaca budiman, menurut Anda siapakah di antara dua orang salesman ini yang akan jadi salesman yang sukses? Ya, pasti salesman B.

Di dunia ini ada dua kelompok besar manusia. Kelompok pemenang dan kelompok pencundang. Para pemenang adalah mereka yang selalu bisa melihat sisi positif segala keadaan yang ada pada diri mereka. Sedang para pecundang terlalu mudah menemukan sisi negatif keadaan yang ada pada diri mereka.

Para pemenang adalah orang-orang hebat dan orang-orang sukses. Mari belajar ikuti langkah mereka agar hidup menjadi lebih baik. Jika Anda selalu melihat semua keadaan di sekitar Anda semuanya jelek maka segera ganti kacamata Anda dengan yang lebih baik!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*