KISAH NASIB DUA LEMBAR KERTAS

Dua lembar kertas tampak sedang berada di sebuah halaman. Pemiliknya, seorang pelukis, sedang menjemurnya di bawah terik sinar matahari.

“Kenapa kita mesti dijemur di bawah matahari begini?” tanya salah satu dari lembar kertas itu.

“Pemilik kita ingin kita agar lebih kering,” jawab temannya.

“Tapi ini menyakitkan,” keluh kertas yang pertama. “Aku tidak mau panas begini!”

Kertas kedua hanya tersenyum mendengar gerutu dari temannya.

“Memangnya nanti kita akan diapakan?” tanya kertas pertama dengan nada kesal.

“Aku dengar, Pak pelukis akan membuat lukisan yang indah di atas tubuh kita.”

“Apa?!…… tubuh kita akan dicoret-coret dengan kuas dan cat? Ini sungguh mengerikan. Pasti akan sangat menyakitkan,” keluh kertas pertama. “Aku tidak mau pelukis itu menyakitiku.”

“Tapi setelah dilukis, tubuh kita akan menjadi indah,” jelas kertas kedua.

“Ah, aku tidak mau!”

Kertas kedua berusaha menjelaskan kepada kertas pertama maksud dari sang pelukis. Tapi kertas pertama tidak mau mendengar. Bagi kertas kertas pertama sang pelukis adalah penjahat yang akan menyakitinya. Maka kemudian ia mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri. Ketika ada angin berhembus sepoi-sepoi kertas pertama memanfaatkannya untuk terbang. Ia kemudian jatuh di pinggir jalan dan ditemukan salah seorang pedagang nasi bungkus. Kertas itu keesokan harinya menjadi pembungkus nasi. Dan setelah itu dibuang ke tempat sampah oleh pembeli nasi bungkus.

Sementara itu kertas kedua percaya sepenuhnya kepada sang pemilik. Ia menerima perlakuan dari sang pemilik yang memang seorang pelukis hebat. Usai kering oleh proses penjemuran, sang pelukis membawa kertas itu ke studio. Di tempat itu sang pelukis membuat lukisan di atas kertas yang dimilik. Kertas kedua merasakan sakit ketika itu. Beberapa hari lamanya proses itu berlangsung. Sampai akhirnya sebuah lukisan yang indah berhasil diwujudkan.

Beberapa minggu kemudian datang seorang pedagang kaya ke studio milik sang pelukis. Dibelinya lukisan indah di atas kertas itu. Maka akhirnya, kertas kedua itu menjadi penghuni ruang tamu sebuah rumah yang megah milik sang pedagang.

***

Pembaca budiman, hidup ini mirip dengan kisah dua lembar kertas di atas. Diri kita ini ada yang memiliki, yaitu Sang Maha Pencipta. Sang pemilik kita berhak memperlakukan apa saja terhadap diri kita. Dan itu semua dilakukan dalam rangka memproses diri kita menjadi “lukisan” yang mahal harganya.

Tetapi tentu saja di dalam proses kehidupan itu ada tahapan-tahapan yang terasa menyakitkan bagi kita. Ada tetes air mata di sana. Ada kucuran peluh di dalamnya. Tetapi percayalah itu semua dalam rangka menjadikan diri kita punya nilai lebih.

Mari buka kembali riwayat hidup orang-orang sukses. Mereka adalah orang-orang telah menjalani serangkaian panjang proses kehidupan. Jatuh bangun, naik turun. Rangkaian masalah dan kesulitan telah mereka lalui. Dan, justru dari perjalanan yang menyakitkan itulah mereka menjadi pribadi yang berharga di mata orang lain.

Bisa dipastikan tidak ada orang-orang besar atau orang-orang sukses yang tidak mengalami rangkaian derita di masa lalunya. Mereka bukanlah orang-orang yang mengalami kehidupan yang penuh kemudahan dan guyuran fasilitas di masa lalunya.

Pembaca budiman, percayalah Sang Pemilik kita, Allah SWT, adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tidak pernah berniat buruk kepada hamba-Nya. Segalanya dilakukan kepada kita adalah demi kebaikan kita.

Dan terlebih penting, yakinilah bahwa Allah SWT itu Maha Tahu. Dia tahu apa yang baik bagi kita, dan apa yang buruk bagi kita. Maka jalani saja kehidupan ini sesuai dengan kehendak-Nya. Boleh jadi itu sangat menyakitkan. Tapi percayalah itu adalah bagian dari proses kehidupan yang akan membuat kita akan menjadi “penghuni rumah megah” bukan penghuni “tempat sampah”.

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*