PILIHAN TEPAT

Hari itu Kerajaan Pasir Putih tengah merayakan hari jadi kerajaan. Sang Raja memanggil tiga orang menteri terbaik yang selama ini telah bekerja untuk kerajaan. Tiga orang menteri itu akan diberikan hadiah. Mereka itu adalah Menteri Keamanan, Menteri Papan dan Menteri Sandang.

“Hari ini aku akan memberikan hadiah kepada kalian sebagai penghargaan atas pengabdian kalian kepada kerajaan selama ini,” ucap Sang Raja.

“Terima kasih, Paduka,” sahut ketiga menteri itu bersamaan.

“Kerajaan akan mengabulkan satu permintaan untuk masing-masing orang,” jelas Sang Raja.

Tiga orang menteri pilihan itu segera berpikir keras. Berbagai keinginan yang belum terwujud segera muncul di kepala. Tapi mereka hanya diperbolehkan mengajukan satu permintaan. Pasti mereka tidak akan gegabah. Salah memilih bisa-bisa menyesal kemudian.

“Paduka Yang Mulia, bila diperkenankan hamba ingin memiliki rumah yang besar dan megah,” ucap Menteri Keamanan.

“Baiklah, aku perkenankan permintaanmu,” jawab Sang Raja. “Kalau kamu Menteri Papan?”

“Mohon maaf, Paduka…. kalau diizinkan hamba ingin punya kebun anggur yang luas. Karena hamba suka sekali dengan buah anggur.”

“Oh begitu…. ya baiklah, aku kabulkan permintaanmu,” jawab Sang Raja. “Kamu Menteri Sandang, apa keinginanmu?”

“Mmm…. kalau hamba tidak muluk-muluk, Paduka,” jawab Menteri Sandang. “Hamba hanya ingin diberikan libur bekerja satu hari saja setiap minggunya.”

“Hah?!” Sang Raja terkejut. “Benar hanya itu permintaanmu Menteri Sandang?”

“Benar, Paduka.”

“Ya, kalau cuma itu ya pasti aku tidak keberatan,” tukas Sang Raja. “Aku izinkan kamu libur satu hari setiap minggu.”

Usai pertemuan itu terjadi perdebatan antara ketiga orang menteri pilihan Kerajaan Pasir Putih. Menteri Keamanan dan Menteri Papan mencemooh pilihan Menteri Sandang. Bagi dua orang menteri itu pilihan Menteri Sandang adalah pilihan bodoh. Tapi Menteri Sandang bergeming. Baginya, itu pilihan yang terbaik.

Waktu terus berlalu. Rumah megah milik Menteri Keamanan sudah beberapa tahun selesai dibangun. Tapi tidak sekali pun sang pemilik pernah meninggalinya. Menteri Keamanan hanya beberapa kali singgah sebentar di rumahnya yang besar dan megah itu saat ada tugas kerajaan di dekat rumahnya.

Di tempat lain, kebun anggur yang luas milik Menteri Papan juga sudah beberapa kali panen. Tapi sang pemilik juga tidak pernah mengunjungi kebun impiannya itu. Beberapa kali Menteri Papan pernah lewat di dekat kebunnya. Itu pun hanya bisa melihat-lihat sejenak. Tugas kerajaan yang sangat padat tidak memungkinkan Menteri Papan untuk menikmati buah anggur di kebunnya sendiri.

Pada beberapa kesempatan Menteri Keamanan dan Menteri Papan mengeluhkan keadaan mereka kepada Menteri Sandang. Dua orang menteri itu merasa telah salah memilih. Mereka hanya memiliki tapi tidak pernah menikmati.

“Kawan-kawanku, aku memang tidak punya rumah besar dan megah. Tapi aku bisa menikmati rumah yang besar dan megah. Jika aku mau, aku hanya tinggal menyewa rumah yang aku inginkan. Aku juga tidak punya kebun anggur. Jika aku ingin memetik anggur, aku tinggal membayar sang pemilik kebun anggur,” ungkap Menteri Sandang.

Menteri Keamanan dan Menteri Papan terdiam.

“Kawan-kawanku, bagiku menikmati itu tidak harus dengan memiliki,” lanjut Menteri Sandang.

***

Pembaca Budiman, kisah di atas sepertinya menggambarkan kehidupan yang terjadi pada masyarakat modern sekarang ini. Mereka bekerja keras mengejar dunia sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk menikmati apa yang sudah mereka miliki. Kejadiannya seperti kata pepatah: Mengharapkan hujan di langit air di tempayan ditumpahkan. Sungguh kasihan.

Betapa banyak orang-orang yang hari ini tidak lagi punya waktu luang. Mereka berangkat bekerja saat hari masih gelap karena matahari masih belum terbit, dan pulang saat hari juga sudah kembali gelap karena matahari sudah tenggelam. Itu semua mereka lakukan untuk mencari uang. Mereka kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dan anehnya, setelah uang itu terkumpul mereka gunakan uang itu untuk membeli waktu luang yang selama ini mereka abaikan. Mereka pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menikmati waktu luang dengan uang yang mereka dapat dari bekerja keras itu.

Banyak orang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun vila di kawasan wisata. Tapi mereka tidak pernah tinggal di vila miliknya. Di sisi lain ada orang-orang yang tidak memiliki vila, tapi mereka setiap hari tinggal di vila yang indah. Bahkan mereka dibayar untuk tinggal di vila. Siapa mereka? Para penjaga vila.

Jadi mau jadi siapa Anda, pemilik atau penjaga?

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*