JANGAN ABAIKAN YANG KITA MILIKI

Seorang pemuda dusun tengah berguru kepada seorang begawan di padepokan yang ada di puncak bukit. Sang Begawan dikenal memiliki ilmu yang sangat tinggi. Pemuda itu ingin mendapat ilmu dari sang Begawan. Ia ingin menjadi orang yang kaya raya.

“Jika kau ingin menjadi orang kaya kau harus memiliki batu keramat,” ucap Sang Begawan. “Dengan memiliki batu itu, apa saja yang kau sentuh bisa berubah jadi emas bila kau mau.”

“Di mana saya bisa mendapatkan batu keramat itu, Guru?” sang pemuda penasaran.

“Batu itu ada di Pantai Pasir Putih,” jawab Sang Begawan. “Kau harus menemukannya di antara batu-batu kerikil yang berserakan di sepanjang pantai itu.”

“Bagaimana saya bisa membedakannya batu keramat itu dengan batu-batu kerikil yang lain, Guru?”

“Batu keramat itu penampakannya tidak berbeda dengan batu kerikil yang lain,” jawab Sang Begawan. “Tapi jika dipegang kau akan mengetahui bedanya batu itu dengan batu biasa.”

“Apa bedanya dengan batu biasa, Guru?”

“Saat terkena sinar mata hari batu itu akan terasa dingin, sementara batu kerikil yang lain terasa panas. Sebaliknya, saat malam hari batu itu akan terasa hangat, tapi batu-batu lain terasa dingin.” Jelas sang Begawan panjang lebar.

Begitu mendapat penjelasan dari Sang Begawan pemuda kampung itu langsung berangkat. Tujuannya hanya satu, Pantai Pasir Putih. Ia sangat yakin akan bisa menemukan batu keramat itu.

Dan setelah menempuh perjalanan beberapa hari, pemuda itu pun sampai di Pantai Pasir Putih. Pemuda itu tertegun. Ternyata sepanjang pantai itu dipenuhi batu-batu kerikil yang berwarna putih. Ia tidak pernah membayangkan bahwa jumlah batu-batu kerikil itu ternyata sangat banyak.

Tapi rupanya tekad pemuda kampung itu sudah bulat. Ia harus menemukan batu keramat itu. Hanya itu caranya dia bisa menjadi orang yang kaya raya. Maka pemuda itu memutuskan memulai pencarian dari salah satu ujung pantai. Ia memutuskan melakukan pekerjaan itu di siang hari. Malam hari ia akan beristirahat.

Hari pertama dimulai. Pemuda itu mengambil satu batu kerikil. Diletakkan di telapak tangannya. Batu itu terasa hangat. Berarti itu bukan batu keramat. Kata gurunya, batu keramat itu akan terasa dingin di siang hari. Maka batu itu dilemparkannya ke laut, agar tidak terpegang tangannya lagi. Diambil batu kedua, terasa hangat juga. Dilemparnya lagi batu itu ke laut. Batu ketiga, keempat, kelima dan seterusnya juga terasa hangat. Semua dilemparnya ke laut.

Waktu terus berlalu. Satu tahun sudah pekerjaan itu dijalani oleh si pemuda. Hampir separuh batu-batu kerikil di pantai itu sudah berpindah ke laut. Belum juga dia menemukan batu keramat. Tapi ia tidak berputus asa. Ia semakin lancar melakukan pekerjaannya. Mengambil batu kerikil, diletakkan di telapak tangan sejenak dan dilemparnya ke laut. Entah sudah berapa ribu batu yang dipegang dan dilemparnya.

Suatu ketika di siang hari yang sangat terik, tanpa sadar tangan pemuda itu memegang batu yang dingin. Itulah batu keramat yang dicari-carinya. Tapi tanpa sadar tangan pemuda itu mengayun. Batu keramat itu dilemparnya ke laut!

Pemuda kampung itu segera menyadari bahwa batu yang dicarinya sudah ketemu. Tapi ia sendiri yang telah membuangnya. Sang pemuda hanya bisa duduk termenung sambil menatap lautan.

***

Pembaca budiman, di dalam kehidupan ini kita semua punya impian di masa depan. Untuk itu kita mengorbankan seluruh waktu dan tenaga. Banyak di antara kita berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam untuk mengejar impian. Begitu seriusnya kita memburu masa depan, sampai-sampai banyak di antara kita yang tidak menyadarinya bahwa impian itu sudah berada didalam genggaman kita.

Hidup yang penuh kebahagiaan menjadi impian banyak orang. Tapi banyak orang membuang-buang kesempatan untuk berbahagia. Mereka mengira kebahagiaan itu ada jauh di sana. Padahal sumber-sumber kebahagiaan itu ada di sekitar mereka sendiri, tapi mereka mengabaikannya.

Setiap orang mendambakan punya keluarga bahagia. Untuk itu mereka bekerja keras. Mereka ingin memiliki rumah megah, mobil mewah dan harta yang melimpah. Tapi betapa banyak hari ini keluarga yang sudah memiliki itu semua tetap tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Mereka terus mengejar impian-impian baru. Orang tua sibuk dengan urusan pekerjaan dan bisnis. Anak-anak sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri. Mengharapkan hujan di langit, air di tempayan ditumpahkan. Begitu kata pepatah.

Pembaca budiman, kebahagiaan itu ada di sekitar kita. Mari nikmati segala yang ada. Bermain dengan anak-anak adalah sumber kebahagiaan. Jalan-jalan pagi bareng keluarga adalah sumber kebahagiaan. Bahkan membersihkan rumah bareng-bareng adalah sumber kebahagiaan juga. Jangan terlalu sibuk mengejar yang jauh di sana, sampai-sampai yang sudah ada di dalam genggaman tangan kita lemparkan “laut”.

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*