RANTAI GAJAH

Seekor anak gajah yang baru berumur beberapa minggu ditemukan seorang petani. Sepertinya anak gajah itu tertinggal dari rombongan gajah yang sedang melintas hutan. Oleh Pak Petani gajah itu kemudian dibawa pulang dan diikat dengan tali agar tidak lepas. Pak Tani khawatir jika gajah itu lepas akan diterkam harimau di hutan karena sang gajah masih kecil.

Gajah kecil itu berontak ingin melepaskan diri. Tetapi tali itu terlalu kuat. Dengan sepenuh tenaga gajah kecil itu terus mencoba memutus tali pengikatnya. Tapi tetap saja tenaga gajah kecil itu tidak kuat memutus tali yang mengikat kakinya. Setelah berulang-ulang mencoba dengan hasil kegagalan, maka gajah kecil itu berhenti mencoba memutus tali pengikatnya.

Waktu terus berlalu. Gajah kecil itu telah berubah menjadi seekor gajah besar. Jika dia mau, maka dengan sekali sentak saja tali pengikat akan putus. Tapi hal itu tidak pernah dilakukan oleh sang gajah. Di dalam kepala gajah itu sudah ada keyakinan bahwa ia tidak akan bisa memutuskan tali pengikat kakinya.

Suatu ketika, menurut Pak Tani sang gajah itu sudah cukup besar. Sudah waktunya gajah itu dilepaskan ke hutan karena pasti sang gajah sudah bisa mencari makan sendiri dan sudah siap menghadapi bahaya di dalam hutan. Maka tali pengikat kaki sang gajah pun dilepas oleh Pak Petani.

Tahukah Anda apa yang terjadi? Ya, ternyata gajah besar itu tetap saja berputar-putar di sekitar rumah Pak Petani. Di dalam kepala sang gajah sudah tertanam kuat bahwa kakinya terikat tali yang sangat kuat.

Pembaca budiman, kisah di atas memang terjadi di dunia binatang, tapi sebenarnya tanpa sadar banyak di antara kita yang tanpa sadar melakukannya. Banyak orangtua hari ini atas nama kasih sayang melakukan begitu banyak proteksi kepada anaknya. Sewaktu sang anak hendak pergi sekolah mereka khawatir akan terjadi kecelakaan di jalan, tersesat atau situasi buruk yang lainnya. Maka jika sang anak hendak berangkat sendiri mereka cegah. Banyak orang tua rela mengantar jemput anaknya karena khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Bertahun-tahun itu dilakukan. Maka akan tertanam kuat di dalam kepada sang anak, bahwa ia memang tidak bisa bepergian tanpa orang tua.

Suatu ketika karena keadaan tertentu si orang tua tidak bisa mengantar anak. Dimintanya sang anak pergi ke sekolah dengan naik kendaraan umum. Akankah sang anak berangkat? Sangat besar kemungkinan sang anak akan memilih tidak berangkat ke sekolah.

Kejadian di atas hanyalah salah satu contoh. Ada banyak hal lain lagi yang dilakukan para orang tua tanpa sadar membatasi perkembangan atau bahkan menjerumuskan anak. Maka tidak heran hari ini kita temukan semakin banyak anak bermasalah. Juga semakin hari anak-anak semakin lambat untuk bisa mengurus diri mereka sendiri.

Dan yang lebih mengkhawatirkan berdasarkan penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan tiga tahun sekali secara global, peringkat kepandaian anak Indonesia sangat memprihatikan. Dalam penilaian tersebut, anak-anak Indonesia ada di peringkat 62 dari 72 negara lain. Dan parahnya, posisi ini semakin merosot dari tahun ke tahun.

Anak adalah produk dari sebuah keluarga. Apa yang dilakukan orang tua kepada sang anak secara terus menerus akan membentuk kepribadian anak di masa datang. Maka tidak heran jika para ahli mengatakan bahwa: Anak bermasalah itu tidak ada, yang ada itu adalah orang tua yang bermasalah. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini. Mereka tersinggung bila disampaikan hal ini kepada mereka.

Di mana sumber masalahnya?

Kita semua paham bahwa: Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.

Jelas, untuk menjadi orang tua diperlukan ilmu. Sayang banyak orang tua malas belajar. Mereka hampir tidak memiliki referensi tentang pendidikan anak. Akibatnya, mereka melakukan dengan kira-kira atau meniru orang-orang di sekitarnya.

Jika keadaan ini tidak berubah, maka jangan heran jika di masa depan bangsa kita akan semakin ditinggalkan oleh bangsa lain. Lahan untuk bekerja bagi anak-anak kita akan semakin sempit. Hanya ada satu jenis pekerjaan yang cocok bagi bangsa yang lemah dan bodoh, yaitu sektor 3D. Pekerjaan-pekerjaan yang  Difficult, Dirty dan Dangerous!

Semoga akan banyak orang tua yang sadar. Amien.

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*