MANUSIA BIASA-BIASA SAJA

Di satu sesi terakhir dari perkuliahan, saya bertanya kepada beberapa mahasiswa yang hadir. Para mahasiswa itu sebagian besar adalah para pekerja yang  mengambil kuliah di malam hari.

“Mengapa Anda semua kuliah. Bukankah Anda sudah punya pekerjaan?” tanya saya.

“Ya… saya ingin memperbaiki keadaan, Pak,” jawab salah seorang.

“Saya tidak mau di posisi ini seterusnya, Pak,” tambah temannya.

“Ingin naik posisi-lah, Pak,” jawab yang lain.

“Oh, jadi Anda ingin pendapatan yang lebih, agar kehidupan menjadi lebih baik,” sahut saya.

“Betul, Pak….”

“Jika setelah lulus nanti Anda melamar ke perusahaan lain, kemudian dipanggil lalu akan minta gaji berapa Anda?” tanya saya lebih jauh.

Semua mahasiswa terdiam.

“Mmm…. saya terima sesuai standar perusahaan, Pak,” jawab seorang mahasiswa dengan ragu.

“Yang penting harus lebih baik dari yang saya terima sekarang, Pak,” sambung yang lain.

Saya tersenyum. Para mahasiswa itu terlihat penasaran.

“Jawaban kalian adalah gambaran kualitas diri kalian yang sebenarnya,” ungkap saya. “Kalian hanya ingin hidup yang lebih baik, tapi kalian tidak yakin dengan kualitas diri kalian sendiri. Kalau kalian semua percaya dengan kualitas yang kalian miliki, mengapa ragu untuk menunjuk angka tertentu yang kalian minta?”

Semua mahasiswa terdiam. Beberapa orang terlihat manggut-manggut.

Pembaca budiman, kejadian tersebut memang terjadi di dalam ruang perkuliahan. Tetapi sebenarnya itu menggambarkan keadaan yang terjadi di dunia nyata. Banyak di antara kita bermimpi memiliki kehidupan yang baik di masa depan. Tapi sebenarnya diam-diam kita mengakui bahwa kita memang tidak layak memiliki kehidupan yang baik di hari depan. Kita tidak percaya bahwa kita bisa meraih masa depan yang baik itu. Dan hasilnya, memang kehidupan yang baik itu hanyalah mimpi di siang bolong.

Di dalam beberapa kesempatan mengisi training, yang pesertanya adalah karyawan perusahaan, saya meminta peserta untuk menuliskan impian mereka di masa depan. Hasilnya benar-benar di luar nalar. Semua pada dasarnya ingin hidup yang lebih baik di masa depan, tapi yang mereka tuliskan sama sekali tidak menarik. Tidak ada yang istimewa.

Saya ingin punya usaha sampingan kecil-kecilan.

Saya ingin punya rumah yang sederhana.

Saya ingin punya mobil meskipun yang murah.

Perhatikanlah cita-cita mereka. Tidak ada impian yang besar. Semuanya cenderung biasa-biasa saja. Maka sudah bisa dipastikan dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan mereka akan memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja.

Mengapa ini semua terjadi? Pasti karena mereka manyadari bahwa kualitas diri mereka hanyalah kelas manusia biasa. Dan manusia biasa itu hanya bisa mendapat fasilitas yang biasa-biasa saja. Menjadi karyawan biasa. Memiliki rumah yang biasa. Anak-anak sekolah di sekolah yang biasa. Semuanya serba biasa-biasa saja.

Kawan, percayalah segala yang kita terima itu selalu sesuai dengan kualitas diri kita. Seseorang yang berkualitas jempolan pasti akan dibayar mahal oleh para pengguna jasanya tanpa mereka memintanya. Bukankah ada orang-orang yang dibayar ratusan juta untuk pekerjaan yang dilakukannya? Lalu mengapa para pengguna jasanya mau membayar begitu mahal? Itu pasti karena orang-orang tersebut punya kualitas yang layak dihargai seperti itu.

Maka kuncinya, mari terus memperbaiki kualitas diri kita. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Dengan menambah ilmu pengetahuan. Terus menerus mengasah ketrampilan. Memperbanyak pergaulan dengan orang-orang yang terbaik di bidangnya dan lain-lain. Jika kualitas diri kita sudah lebih baik, maka kehidupan kita pasti akan menjadi lebih baik. Jika memang kita adalah orang-orang yang punya kemampuan terbaik, para pemakai jasa kita akan berlomba-lomba mengejar tanpa pernah kita mengemis-ngemis untuk meminta kenaikan gaji.

Mari terus mengembangkan diri. Sampai jumpa di dermaga kehidupan yang lebih baik!

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*