MENTAL PENONTON

Satu panggung pertunjukan sirkus dipenuhi penonton. Berbagai atraksi yang telah disajikan menyisakan tepuk tangan dan decak kagum semua penonton. Kini, di atas panggung ada dua orang pemain sirkus. Di ujung kiri, berdiri pemain laki-laki dengan tubuh tegap. Dia memegang senapan. Sementara itu di ujung yang lain dari panggung berdiri pemain kedua, seorang perempuan cantik. Perempuan itu meletakkan satu buah semangka di atas kepalanya.

Kedua pemain bersiap. Para penonton menahan napas. Dor!!….. Terdengar suara ledakan keras. Buah semangka itu hancur berkeping-keping. Perempuan cantik itu selamat tanpa luka sedikitpun. Kini ia menghormat kepada penonton. Suara tepuk tangan memenuhi gedung pertunjukan.

Kini perempuan berambut jagung itu mengambil buah melon. Ukurannya hanya setengah dari buah semangka. Diletakkan buah melon itu di atas kepalanya. Kembali kedua pemain bersiap. Kesunyian kembali menguasai panggung. Dor!!!…. Suara ledakan memekakkan telinga kembali terdengar. Buah melon itu juga pecah menjadi beberapa bagian. Pemain perempuan kembali selamat tanpa ada lecet sedikitpun. Tepuk tangan kembali mengiringi keberhasilan atraksi ini.

Untuk ketiga kalinya, sang pemain perempuan mengambil buah. Kali ini buah yang ukurannya lebih kecil lagi, jambu biji. Dengan mantap diletakkan buah jambu biji itu di atas kepalanya. Dua orang pemain sirkus itu segera bersiap. Pemain laki-laki membidik. Kali ini ia harus hati-hati. Buah jambu biji itu terlalu kecil. Cukup lama ia membidik. Jantung para penonton serasa berhenti berdetak. Sunyi.

Dor!!!…. Suara ledakan memecah kesunyian. Jambu biji itu pecah menjadi bagian-bagian kecil. Pemain perempuan selamat. Ia melambaikan tangan kepada penonton. Para penonton berdiri untuk memberikan aplaus panjang. Pertunjukan yang spektakuler!

Dari tepi panggung muncul seorang pembawa acara. Dia membawa satu buah semangka yang cukup besar.

“Para penonton,” sapa sang pembaca acara. “Apakah Anda semua percaya bahwa penembak kita ini benar-benar ahli?” tanya sang MC.

“Percayaaa…..,” jawab penonton serempak.

“Apakah Anda semua percaya bahwa sang penembak kita akan bisa menembak buah semangka ini dengan tepat?” tanya sang MC lebih lanjut.

“Percayaa…..”

“Baik, kalau begitu siapa yang berani maju ke depan untuk menggantikan posisi pemain perempuan kita yang cantik jelita ini?” tantang sang MC.

Tidak ada jawaban.

“Siapa yang berani akan mendapatkan hadiah uang tunai seratus ribu Rupiah!” tambah sang MC.

Berulang-ulang tawaran itu disampaikan. Apa hasilnya? Ya, tidak ada seorang pun yang berani maju ke depan meski hadiah ditambah berkali-kali lipat.

Pembaca budiman, kisah di atas mirip dengan kehidupan sehari-hari. Sudah terlalu banyak motivator dan penceramah menyampaikan cerita tentang kisah dari orang-orang hebat. Banyak buku-buku tentang kesuksesan dirilis. Berbagai video pembakar semangat diunggah. Semua itu sering kali membuat kita manggut-manggut. Membuat kita terpesona. Mungkin juga membuat kita menjadi bersemangat. Tetapi apakah itu semua cukup? Tidak!

Ada yang lebih penting dari itu semua. Lakukan sesuatu. Jangan hanya merasa cukup dengan mengetahui sesuatu. Jangan puas hanya jadi penonton. Segera ambil langkah pertama untuk menuju dermaga impian. Jadilah sang pemain, bukan penonton. Perhatikan kembali kisah di atas. Hanya dengan meyakini sesuatu tidak akan ada “hadiah” yang Anda dapat.

Sudah barang tentu di dalam menggapai impian akan ada halangan di jalannya. Ada resiko yang harus ditanggung. Itu sudah menjadi hukum kehidupan. Semakin besar resiko semakin besar imbalannya. Di dalam bidang apapun yang Anda tekuni akan berlaku hukum ini.

Pembaca budiman, percayalah di dunia ini seseorang hanya dibayar berdasarkan apa yang dia kerjakan, bukan yang dia ketahui. Apalah artinya seseorang punya ilmu bila hal itu tidak diikuti tindakan. Ingat pepatah Arab: Al-‘ilmu bila ‘amalin kasyajari bila tsamarin. Ilmu yang tidak diamalkan itu seperti pohon yang tidak berbuah.

Tetapi, di dunia ini memang akan selalu lebih banyak penonton daripada pemain. Hanya para pemainlah yang mendapat bayaran. Sementara para penonton malah membayar untuk menyaksikan kesuksesan orang lain.

So, mau jadi penonton atau pemain Anda?

 

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*