BAYANGAN BULAN

Malam itu Bahlul sedang lesehan di serambi rumah sambil ngopi. Di luar suasana terang benderang oleh cahaya bulan purnama. Tiba-tiba terlihat sosok yang berjalan menuju rumah Bahlul. Darji, adik Bahlul yang sudah menikah itu, datang bertamu.

“Kenapa kok kusut begitu?” sapa Bahlul.

“Aku lagi banyak masalah, Kang….” keluh Darji lirih setelah duduk di dekat Bahlul.

“Hahaha……,” Bahlul ngakak.

Darji menatap sang kakak dengan tatapan tak mengerti.

“Kamu ini kan sarjana, sudah jadi pegawai pemda…. Rumahmu juga bagus meskipun masih nyicil…. lha kok masih saja ngeluh banyak masalah toh, Ji….,” ucap Bahlul serius.

“Enggak tahulah, Kang….. sepertinya hidupku ini ruwet banget,” jawab Darji. “Enakan jadi Kang Bahlul kayaknya.”

“Hahaha…..,” Bahlul ngakak lagi. “Ngopi sik, ngopi sik….”

Bahlul masuk ke dalam rumah. Ia kemudian menyiapkan tiga ember yang berisi air di halaman rumahnya.

“Ayo ikut aku,” ajak Bahlul.

Darji menuruti ajakan Bahlul. Mereka berjalan menuju halaman rumah Bahlul.

“Bagaimana keadaan bulan di langit itu, Ji?” tanya Bahlul.

“Terang sekali, Kang…. indah,” jawab Darji.

Bahlul kemudian berjalan menghampiri sebuah ember yang berisi air yang jernih. Darji mengikuti.

“Bagaimana bayangan bulan di ember itu, Ji?” tanya Bahlul.

“Sama terangnya dengan yang di atas, Kang.”

Mereka kemudian menghampiri ember kedua  yang diisi air keruh.

“Bagaimana bayangan bulan di ember yang ini, Ji?”

“Remang-remang, Kang….”

Mereka kemudian menghampiri ember ketiga. Di dalam ember yang berisi air itu Bahlul memasukkan sampah ke dalamnya.

“Di ember yang ini bagaimana, Ji?”

“Bayangan bulan itu menjadi kacau, Kang….”

Bahlul tersenyum. Darji masih tak mengerti.

“Apakah bulan yang kau lihat di masing-masing ember itu berbeda, Ji?” tanya Bahlul.

“Bulannya satu, Kang….. isi ember itu yang berbeda,” jawab Darji.

Bahlul berjalan menuju teras rumahnya. Darji mengikuti. Tak lama kemudian mereka sudah duduk lesehan sembari menikmati kopi hitam.

“Kita semua punya ember di dalam diri kita, Ji…. kualitas ember yang kita miliki itu menentukan kualitas bayangan yang ada di dalamnya,” jelas Bahlul.

Darji menatap Bahlul tanpa berkedip.

“Kalau ember kita jernih maka bayangan di dalamnya akan terlihat terang. Kalau ember kita keruh, akan keruh pula bayangan di dalamnya. Dan kalau ember kita berisi sampah, maka pasti semua bayangan akan terlihat kotor dan kacau….. Ember di dalam diri kita itu adalah hati, Ji….”

Darji diam tertunduk.

Pembaca budiman, setiap insan di dunia ini pasti memiliki masalah. Siapa pun dia, apa pun jabatannya pasti tidak ada yang lepas dari masalah. Tetapi setiap orang bisa melihat semua persoalan dengan kacamata yang berbeda-beda. Dan itu semua dipengaruhi oleh keadaan hati kita.

Bagi orang-orang yang berhati jernih, semua persoalan kehidupan akan terlihat indah. Sementara bagi orang-orang yang berhati keruh, sekecil apapun persoalan akan menjadi hal menyesakkan dada. Dan bagi hati yang dipenuhi sampah, bahkan anugerah Tuhan pun akan membuat kehidupannya kacau balau.

Menjadi penting untuk menata hati kita, karena ia akan menentukan kualitas kehidupan yang kita jalani. Sayangnya, pendidikan di negeri ini tidak memberi bobot yang cukup untuk menata hati. Maka tidak heran banyak pasangan suami istri yang masing-masing bertitelkan mentereng tetapi merasa kesulitan menghadapi setiap persoalan kehidupan. Sementara itu, ada pasangan yang tanpa gelar bisa menjalani kehidupan dengan enjoy.

Tidak salah jika Rasulullah saw menyampaikan:

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (kalbu)” (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a’lam bis showaab.

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*