RAJA SETAN

Hari Ahad pagi. Di masjid ada kajian Ahad pagi. Bahlul ada di antara puluhan jamaah yang memilih tidak pulang sehabis shalat subuh berjamaah.

“Jamaah sekalian, ingatlah bahwa setiap kita hendak berbuat kebaikan pasti setan akan datang untuk menghalang-halangi,” ucap sang Ustadz dari mimbar masjid. “Setan telah bersumpah untuk selalu menghalangi setiap anak Adam yang akan berbuat baik. Hal ini termaktub di dalam al-Quran surah al-A’raf ayat 16 yang artinya Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus’,” jelas sang Ustadz yang berkopiah hitam itu.

Jamaah tampak menyimak serius.

“Dan kita jumpai banyak orang kalah oleh setan. Mereka gagal melakukan kebaikan karena setan berhasil menghalanginya,” lanjut sang Ustadz. “Betapa banyak orang yang gagal bersedekah karena setan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan kelaparan.”

“Ustadz!” ucap Bahlul tiba-tiba sembari mengangkat tangan.

“Ya, kenapa Pak Bahlul?”

“Saya akan bisa mengalahkan setan pagi ini!” ucap Bahlul berapi-api. “Saya akan bersedekah sekarang juga.”

“Baiklah, silahkan,” balas sang penceramah.

Seketika Bahlul berdiri. Semua jamaah memandangnya. Bahlul tidak menghiraukan tatapan orang-orang itu. Ia bergegas pulang. Tujuannya hanya satu. Ia akan membuktikan bahwa pagi itu ia berhasil mengalahkan setan. Ia akan bersedekah.

Beberapa menit kemudian Bahlul sudah sampai di rumah. Suasana sepi. Muniroh, istri Bahlul, sedang ke tukang sayur. Anak-anaknya masih belum bangun. Bahlul segera menuju dapur. Di sudut dapur ada tempat menyimpan beras. Segera dibuka penutupnya.

“Astaghfirullah!” pekiknya lirih.

Ternyata beras tinggal sedikit. Mungkin hanya cukup untuk makan hari itu. Bahlul berniat mengurungkan rencananya untuk bersedekah. Tapi ia sudah berjanji untuk mengalahkan setan pagi itu. Lekas diambilnya plastik kresek. Dituangkan beras itu ke dalam plastik.

Bahlul melangkah mantap. Tangannya memegang plastik kresek berisi beras. Tapi ketika melintas di kamar tidur depan Bahul berhenti. Pandangannya menyelinap masuk kamar. Terlihat dua anaknya yang sedang tidur lelap.

“Nanti anakku makan apa hari ini?” bisiknya pelan.

Bahlul memutar badan. Ia hendak mengembalikan beras itu ke tempatnya. Tapi ia segera ingat niatnya untuk menaklukkan setan. Bahlul tidak mau kalah dengan setan. Ia kembali memutar badan ke arah luar. Kini langkahnya semakin mantap. Dadanya penuh semangat. Setan harus dikalahkan.

Tapi begitu melangkah kaki keluar dari pintu rumah Bahlul ketemu Muniroh, istrinya.

“Apa itu, Kang?” tanya Muniroh sembari memandangi plastik di tangan Bahlul.

“Beras,” jawab Bahlul.

“Untuk apa?”

“Aku mau sedekah!”

“Hah?!” pekik Muniroh. “Kang Bahlul ini sudah gila apa?!…. Beras cuma tinggal untuk makan hari ini malah disedekahkan!”

Muniroh segera merenggut plastik di tangan Bahlul. Bahlul berusaha menahan. Terjadi tarik menarik antara keduanya. Cukup lama adegan itu berlangsung. Semua orang yang lewat kemudian berhenti untuk menyaksikan kejadian itu. Bahlul malu. Maka dengan berat hati dilepaskannya pegangan tangannya pada plastik itu. Plastik berisi beras itu pun berpindah ke tangan Muniroh.

Pagi itu Bahlul gagal bersedekah. Dengan langkah gontai ia kembali ke masjid. Pengajian Ahad pagi itu masih belum bubar saat Bahlul tiba.

“Bagaimana, Pak Bahlul… sudah berhasil mengalahkan setan pagi ini?” sapa sang Ustadz dari atas mimbar.

“Saya sudah berhasil mengalahkan semua setan-setan yang ada di dalam rumah, Ustadz,” tukas Bahlul. “Masalahnya, begitu keluar rumah di depan pintu saya ketemu dengan rajanya, Ustadz. Ya kalah saya, Ustadz…”

“Siapa itu rajanya setan itu?” Sang Ustadz penasaran.

“Siapa lagi… ya istri saya, Ustadz!” jawab Bahlul.

Hahaha…. Kontan semua jamaah dan sang penceramah tertawa lepas.

Pembaca budiman, ada pelajaran penting dari sekedar tawa dari kisah di atas. Betapa banyak orang-orang hebat yang terjerumus tindakan yang salah karena pengaruh orang dekatnya. Kita ingat dengan Ferdinand Marcos yang menjarah ruah harta negara Philipina karena dorongan kehidupan glamour sang istri, Imelda Mercos. Juga penguasa Iran Reza Pahlevi yang jatuh gara-gara kehidupan glamour sang istri, Farah Pahlevi.

Maka, berhati-hatilah dalam mencintai orang-orang terkasih kita. Setan bisa mencelakakan kita melalui mereka. Waspadalah, waspadalah!… Begitu kata Bang Napi.

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*