TIDUR DI MASJID

Hari Senin. Seperti biasa Bahlul melaksanakan puasa sunah Senin-Kamis. Pada hari-hari waktu puasa sunah Bahlul lebih banyak mengisi waktu dengan beribadah. Ia tidak pergi ke pasar untuk berdagang. Di pasar memang sering banyak godaan.

Usai menunaikan shalat dhuhur Bahlul tidak pulang. Ia memilih mengisi waktu dengan berdzikir. Dan setelah cukup lama berdzikir Bahlul kemudian mengambil mushaf al-Quran yang ada di rak yang berada di sudut masjid. Dibacanya pelan-pelan ayat-ayat suci al-Quran itu.

“Hei, jangan berisik!” teriak seseorang tiba-tiba.

Bahlul menengok ke sumber suara. Ternyata yang mengucapkan adalah Kang Saman, salah seorang tetangganya. Kang Saman juga baru saja ikut shalat dhuhur berjamaah. Selesai shalat Kang Saman juga tidak pulang, tapi tidur di masjid.

“Kenapa, Kang Saman?” tanya Bahlul.

“Suaramu ngaji itu menggangguku,” jawab Kang Saman. “Aku tidak bisa tidur jadinya.”

“Oh, begitu,” Bahlul paham. “Kang Saman juga jangan mengganggu saya kalau begitu.”

“Lho, siapa yang mengganggu?” Kang Saman tidak paham.

“Gara-gara Kang Saman tidur di masjid saya tidak bisa ngaji. Kan itu mengganggu namanya,” balas Bahlul sembari menyeringai.

“Ah, dasar kamu ini memang Bahlul!” sungut Kang Saman.

Pembaca budiman, kejadian yang dialami oleh Kang Saman dan Bahlul ada gambaran kehidupan yang sebenarnya. Setiap orang sebenarnya selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing. Kang Saman yang ingin tidur terganggu oleh Bahlul. Sementara Bahlul yang ingin mengaji terganggu oleh Kang Saman.

Kasus antara Kang Saman dan Bahlul itu terjadi karena keduanya merasa benar. Itulah yang di dalam literatur agama disebut dengan hawa nafsu. Hawa nafsu yang sudah menjadi kosa kata Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Kosa kata itu terdiri dari dua kata, yaitu hawa yang berarti keinginan dan nafs yang berarti diri sendiri. Jadi secara sederhana dapat diartikan bahwa hawa nafsu itu sebagai keinginan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang dan kepentingan diri sendiri.

Hawa nafsu adalah sesuatu yang berbahaya jika tidak dikendalikan. Setiap orang akan selalu menemukan alasan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Lihatlah jalan raya di kota-kota besar di pagi hari. Setiap orang merasa dirinya yang paling penting dan kepentingannya yang harus diutamakan. Rambu-rambu lalu-lintas dan traffic light tak perlu ditaati. Tapi kepentingan diri sendiri harus tetap ditaati. Maka yang terjadi adalah kemacetan di mana-mana.

Segala carut marut di negeri ini sumber utamanya adalah hawa nafsu yang tidak dikendalikan. Beberapa oknum merasa berhak menggunduli hutan tanpa memperhatikan kepentingan orang banyak. Maka yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor. Beberapa pejabat merasa berhak menjarah kekayaan negara tanpa memperhatikan nasib rakyat. Maka kemiskinan terjadi di seluruh pelosok negeri.

Begitulah berbahayanya hawa nafsu. Al-Quran sudah mengingatkan akan bahayanya hawa nafsu. Di surah al-mukminun ayat 71 Allah swt menyampaikan:

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.

Puasa Ramadhan yang sebentar lagi kita jalani adalah saranah ampuh untuk belajar mengendalikan hawa nafsu. Selama berpuasa kita dididik untuk tidak hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang sendiri. Di siang hari meski pun perut kita lapar dan di rumah kita ada makanan. Walaupun itu makanan jenisnya halal dan kita beli dengan uang halal. Tapi kita tidak serta merta memakannya. Ada aturan kapan kita boleh memakannya. Kepentingan kita harus dikalahkan oleh aturan.

Sebulan penuh kita menahan diri dari segala kepentingan pribadi, yang disimbolkan dengan kepentingan untuk makan. Dan di akhir Ramadhan kita dipaksa untuk memberikan sebagian bahan makanan utama kita kepada orang lain, yaitu  fakir miskin. Harapannya, setiap pribadi yang beriman di dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya melihat segala seuatu dari sudut pandang sendiri. Ada kepentingan pihak lain yang perlu diperhatikan.

Sungguh ini latihan yang luar biasa. Mudah-mudahan kita dapat menjalani puasa tahun ini dengan sebaik-baiknya. Dan selanjutnya mengambil pelajaran berharga itu serta menjalankannya di dalam kehidupan nyata. Jika semua anak bangsa menjadi orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu, maka negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur pasti akan segera terwujud.

Wallahu a’lam bis showab.

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*