BAJU BIRU

Hari masih pagi. Bahlul dan Darji sudah sudah sampai di halaman kantor Kabupaten. Mereka hendak memenuhi undangan Bapak Bupati. Keduanya mengenakan baju batik berwarna biru. Di kartu undangan tertulis para tamu undangan harus mengenakan baju batik berwarna biru.

Di pendopo Kabupaten sudah banyak orang. Mereka itu  adalah para Camat, Kepala desa, perangkat desa dan tokoh masyarakat yang diundang Pak Bupati. Hari itu ada resepsi hari ulang tahun kabupaten. Ini adalah puncak acara dari rangkaian kegiatan yang diadakan hampir satu bulan penuh.

Bahlul dan Darji mengambil duduk di bagian belakang. Mereka merasa bukan orang penting.

“Kok baju sampean enggak biru?” sapa seseorang di sebelah Bahlul.

Bahlul melihat ke bajunya, lalu melihat ke baju orang yang duduk di sebelahnya.

“Baju sampean itu yang enggak biru!” serobot Darji sambil menunjuk seseorang yang duduk di samping Bahlul.

“Orang baju saya biru kok!” jawab yang ditunjuk dengan nada tinggi.

Pembicaraan itu menarik perhatian orang-orang yang hadir. Mereka semua kemudian melihat baju orang-orang di kiri kanannya. Ternyata banyak tamu undangan yang tidak memakai batik biru. Wah wah wah….

“Lho, sampean malah pakai warna hijau!” tunjuk Bahlul pada seseorang yang duduk di sisi depan.

“Aboh, ini biru!” balas orang itu lantang.

“Hahaha….. .”

Semua yang hadir tertawa. Dari logat bicaranya diketahui seseorang yang mengenakan batik berwarna hijau itu dari Madura. Memang di Madura tidak ada kosa kata hijau. Warna hijau disebut biru. Tidak salah jika salah seorang undangan yang berasal dari Madura itu mengenakan baju batik hijau.

Orang-orang itu terus ribut. Mereka semua merasa bahwa bajunya yang berwarna biru, baju orang lain tidak. Tiba-tiba saja seseorang memasuki ruangan pendopo. Orang-orang yang ribut itu seketika diam. Mereka tidak lagi saling cekcok. Masing-masing merapikan bajunya. Tidak ada lagi yang melihat baju orang lain.

“Kang orang itu siapa?” tanya Darji sambil berbisik kepada Bahlul.

“Ssst… itu Pak Bupati,” bisik Bahlul.

Darji buru-buru merapikan penampilan. Ia tidak mau berbicara lagi. Saat ada nyamuk yang menggigitnya Darji juga tidak menepuknya. Darji mengusir nyamuk itu dengan ayunan tangan perlahan. Di hadapan Darji sudah ada Bapak Bupati. Ia tidak mau terlihat tidak sopan di hadapan Pak Bupati.

Usai acara penting itu Bahlul dan Darji pulang naik angkutan pedesaan. Mereka terus membicarakan kemeriahan acara di pendopo Kabupaten.

“Kok tadi masih ada saja orang yang ribut saat Pak Bupati sudah datang, Kang?” ucap Darji.

“Yang masih ribut itu karena dia tidak tahu kalau di hadapannya ada Bapak Bupati,” jawab Bahlul.

Pembaca budiman, di dalam kehidupan ini ada yang mengawasi kita setiap saat. Semua kita meyakini hal itu. Setiap jengkal kehidupan ini ada di dalam penglihatan Sang Mahatahu. Tidak ada satu centi pun di dunia ini yang luput dari pengawasan-Nya.

Setiap insan ada di dalam pengawasan-Nya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari penglihatan-Nya. Jika di hadapan Bapak Bupati saja orang-orang tidak mau ribut, tidak mau lagi mengomentari “baju” orang lain, lalu mengapa di dalam dunia nyata ini masih banyak orang tak henti-hentinya mengomentari orang lain?

Hari ini beberapa orang sibuk menunjuk orang lain. Mereka merasa dirinya paling benar dan orang lain salah. Kelompokku benar, kelompok orang salah. Partaiku benar, parti orang lain salah. Jamaahku benar, jamaah orang lain salah. Organisasiku benar, organisasi orang lain salah. Mengapa ini terjadi? Pasti karena mereka tidak tahu bahwa Dzat Yang Mahatahu hadir di hadapannya.

Orang-orang pilihan adalah mereka yang sibuk membenahi diri. Mereka sadar bahwa dihadapannya ada Allah Yang Mahamelihat. Andai saja ada orang yang menyubit atau menyenggolnya pasti akan dibalas dengan cara yang terbaik. Membuat keributan di hadapan-Nya sungguh tidak pantas.

Sekarang mari bertanya kepada diri sendiri. Termasuk kelompok yang mana kita? Jika masih sering kita melihat “warna baju” orang lain, itu tandanya ada masalah dengan keimanan kita.

Walalahu a’lam bis showab.

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*