MENANAM SINGKONG

Pagi itu Bahlul tidak ke sawah. Tidak ada hal penting di sawah yang harus dilakukan hari ini. Ia memilih berjalan-jalan di sekitar kampung sembari menikmati suasana desa yang tenang.

Sampai di pinggir kampung terlihat Kang Saman sedang mencangkul di kebunnya. Posisi kebun Kang Saman memang tepat di pinggir jalan kampung.

“Rajin amat, Kang… pagi-pagi sudah sibuk,” sapa Bahlul.

“Kalau siang nanti panas, Lul,” jawab Kang Saman sembari menghentikan kegiatan.

Bahlul mengambil duduk di pinggiran jalan kampung. Kang Saman meneruskan mencangkul untuk menggemburkan tanah.

“Untuk apa dicangkul tanahnya, Kang?” tanya Bahlul.

“Untuk ditanami singkong!”

“Ooo….,” Bahlul manggut-manggut. “Untuk apa Kang Saman menanam singkong?” kejar Bahlul.

“Ya supaya saya bisa makan singkong, Lul….”

“Mmm…..,” kembali Bahlul manggut-manggut. “Lha untuk apa Kang Saman makan singkong?”

“Kamu ini memang bahlul kok, Lul!” Kang Saman gemas. “Ya agar saya kuat mencangkul untuk menanam singkong lagi.”

“Hahaha…..,” Bahlul tertawa lepas.

Kang Saman bingung.

Pembaca budiman, apa yang dilakukan Kang Saman memang lucu. Sepertinya kegiatan yang dilakukan Kang Saman hanya berputar-putar tanpa tujuan. Mencangkul untuk menanam singkong. Menanam singkong untuk bisa makan singkong. Makan singkong untuk bisa mencangkul. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Barangkali bukan hanya Kang Saman yang mengalami hal itu. Sebagian manusia juga mengalaminya. Rangkaian kehidupan dijalani secara rutin belaka. Mereka seperti berputar-putar di dalam labirin tanpa ujung. Bangun tidur, berangkat kantor, bekerja,  pulang kantor, tidur dan kembali bangun tidur untuk berangkat ke kantor.

Siklus kehidupan sebagian orang juga berputar-putar tanpa ujung. Banyak orang sibuk bekerja mencari uang sampai tidak punya waktu luang. Tetapi begitu uang terkumpul, digunakannya uang itu untuk membeli waktu luang. Bukankah orang-orang yang berwisata itu sebenarnya hanya ingin menikmati waktu luang? Sebagian orang mengalami siklus yang menyedihkan. Mereka sibuk mencari uang dengan mengabaikan kesehatan. Tetapi begitu uang terkumpul cukup banyak, uang itu digunakan untuk membeli kesehatan yang dulu pernah diabaikannya. Sungguh membingungkan.

Bagi orang beriman tidak ada yang membingungkan. Setiap anak Adam yang hadir di dunia memiliki peran besar yang harus diembannya. Menjadi khalifah fil ardl, menjadi khalifah di muka bumi. Maka setiap tindakan yang dilakukan orang beriman adalah dalam rangka mengemban amanah besar itu.

Sayangnya, banyak yang salah paham dengan istilah khalifah. Sebagian orang mengartikan kata khalifah sebagai pemimpin. Kalaulah kata khalifah berarti pemimpin, maka seharusnya yang disebut khalifah pertama pastilah Rasulullah Muhammad saw. Tetapi di dalam khazanah sejarah Islam khalifah pertama adalah Abu Bakar Asshiddiq.

Kata khalifah sejatinya berasal dari akar kata khalafa yang berarti menggantikan yang lain. Maka makna paling pas untuk kata khalifah yang sesuai dengan peran besar manusia adalah ‘pengganti’. Maka Abu Bakar adalah khalifah pertama, yaitu orang pertama yang menggantikan posisi Rasulullah sebagai kepala negara.

Lalu pertanyaan besarnya adalah sebagai pengganti siapakah kita ini? Jawabannya tergantung dengan siapa kita berhadapan. Jika sedang berhadapan dengan makhluk, maka seharusnya setiap orang beriman adalah pengganti dari Allah swt. Tugasnya memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Jika ada orang berkekurangan, maka sebagai khalifah seharusnya berusaha memenuhi kebutuhan orang yang kekurangan itu. Jika ada orang yang sakit, maka sebagai pengganti Tuhan seharusnya berusaha untuk mencarikan obat bagi si sakit. Begitulah tugas dari wakil Tuhan di muka bumi.

Sebaliknya, jika sedang berhadapan dengan sang Khalik maka seorang anak Adam harus menggantikan orang-orang di sekitarnya. Doa-doa dan permohonannya adalah representasi dari kebutuhan dari orang-orang kekurangan di sekitarnya. Begitulah tugas sang khalifah. Tugas yang sangat mulia. Orang-orang yang mampu melaksanakannya akan menjadi pribadi-pribadi yang namanya abadi dikenang orang sepanjang zaman.

Tapi sayangnya, tidak banyak orang-orang yang mampu mengemban amanah mulia ini. Mereka lebih sibuk menjadi wakil dari diri sendiri. Segala aktifitas kehidupan motivasinya hanya untuk diri sendiri. Orang-orang seperti itu hanya akan menjadi manusia biasa. Namanya tidak akan pernah dikenang orang. Tidak salah jika seorang pemikir besar Sayyid Quthb mengatakan:

“Orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil, dan mati pun sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup untuk orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

Mau jadi orang besar atau orang kerdil Anda?

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

0857 7991 7492

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*