AKUARIUM VS SAMUDERA

“Hah!” desah Darji sambil membanting tubuhnya di kursi ruang tamu Bahlul.

“Lho, ada apa, Ji?” Bahlul menatap adiknya yang tiba-tiba nongol di rumahnya itu.

Darji hanya diam. Bahlul lekas paham Darji, adiknya itu pasti sedang punya masalah.

“Wis, ngopi dulu saja,” ujar Bahlul sambil menyorongkan cangkir berisi kopi panas yang baru saja dibikin Muniroh untuk Darji.

“Pusing aku, Kang,” keluh Darji. “Setiap hari di rumah selalu ada beda pendapat. Mau ngecat rumah saja semua maunya berbeda. Aku mau hijau. Istriku maunya merah mudah. Mertua laki maunya putih. Mertua perempuan juga beda lagi. Malah penginnya abu-abu.”

Bahlul tersenyum dan kemudian menyeruput kopi.

“Belum lagi urusan yang lain. Beda terus pokoknya!” sungut Darji.

“Ayo ikut aku!” ajak Bahlul sembari berdiri.

“Ke mana?” Daji bingung.

“Wis toh, ikut saja.”

Bahlul berjalan ke samping rumah. Darji mengikuti di belakang. Di halaman samping rumah Bahlul terdapat beberapa akuarium yang berisi ikan. Bahlul memang suka memelihara ikan hias.

“Berapa ikan yang ada di dalam akuarium ini, Ji?” tanya Bahlul.

“Mmm… lima ekor,” jawab Darji sambil melihat ke arah akuarium yang paling kecil itu.

“Kalau ditambah bagaimana, Ji?” tanya Bahlul.

“Ya, enggak muat, Kang,” jawab Darji. “Nanti bisa mati ikannya,” lanjutnya.

“Kalau aku mau tambah sepuluh ekor?”

“Enggak bisa, Kang… Masukkan yang itu saja, Kang,” Darji menunjuk akuarium yang lebih besar.

“Mmm…. kalau aku mau miara seribu ikan?”

“Hah!… Kang Bahlul taruh di samudera saja!” Darji kesal.

“Hahaha….,” Bahlul ngakak. “Itulah bedanya akuarium dengan samudera, Ji….”

Darji bingung.

“Ji….kalau hatimu cuma seluas akuarium maka hanya bisa menampung beberapa pendapat orang,” ucap Bahlul sambil memegang pundak adiknya. “Tetapi kalau hatimu seluas samudera maka semua orang bisa bebas berpendapat di hadapannmu.”

Pembaca budiman, di dalam kehidupan ini kita semua pasti berinteraksi dengan orang lain. Bisa jadi orang-orang itu adalah anggota keluarga kita. Bisa jadi orang di luar keluarga. Dan sudah pasti setiap orang, siapapun itu, punya pikiran berbeda-beda. Setiap orang punya selera berbeda-beda. Tidak mungkin selera dan keinginan semua orang sama.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Ia memang menjadi bagian dari kehidupan. Bahkan perbedaan itu pula yang membuat kehidupan ini berputar. Tidak bisa dibayangkan jika penghuni bumi ini semuanya adalah para juragan, lalu siapakah yang menjadi pegawainya? Jika semua penghuni jagat ini adalah para kaum cerdik pandai, lalu siapakah yang menjadi muridnya? Karena perbedaan maka ada rasa saling membutuhkan. Hal itulah yang mendorong perputaran kehidupan di alam semesta ini.

Kita semua terlahir dari perbedaan jenis kelamin ayah dan ibu. Kita hidup dari adanya perbedaan kebutuhan dengan orang lain. Tetapi mengapa hari ini kita sulit bisa menerima perbedaan? Banyak di antara kita sakit hati melihat orang lain memuja idolanya, yang kebetulan sang idola itu berbeda dengan idola dirinya. Banyak yang uring-uringan melihat saudaranya punya pilihan berbeda dengan pilihannya. Mengapa itu terjadi? Pasti itu semua karena hatinya hanya seluas akuarium.

Orang-orang yang berhati sempit, yang hatinya hanya seluas akuarium, tidak bisa menampung aneka warna perbedaan. Orang-orang seperti ini akan sulit menemukan kebahagian, karena tidak mungkin setiap orang akan selalu serupa dengan keinginannya. Sungguh kasihan.

Orang-orang arif dan bijaksana adalah orang-orang yang punya hati seluas samudera. Hati mereka mampu menampung tidak hanya “ikan” sejenis dan terbatas jumlahnya. Berapapun jumlahnya dan apapun jenis “ikan” boleh hidup di sana. Orang-orang pilihan ini tidak pernah risau dan sakit hati melihat berbagai tingkah polah manusia yang tidak sesuai dengan keinginannya. Mereka tetap bisa hidup bahagia dengan apa saja yang mereka hadapi.

Memiliki hati yang lapang menjadi sangat penting. Hal itu membuat kita menjadi tahan menghadapi segala persoalan kehidupan. Dengan hati yang lapang segala persoalan yang besar akan menjadi kecil. Sebagaimana tertera di dalam surah al-Insyirah ayat 1-3.

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu. Dan Kami telah menghilangkan beban, yang memberatkan punggungmu?

Perhatikan baik-baik ayat di atas. Frasa melapangkan dada mendahului menghilangkan beban. Artinya, jika dada telah lapang maka beban dengan sendirinya akan hilang. Maka ada doa Nabi Musa yang sangat penting untuk diulang-ulang bagi orang-orang yang ingin memiliki hati yang lapang.

Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Wallahu a’laam bish showab

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*