HIDUP ADALAH MEMAKNAI

Seorang pemuda tengah berjalan untuk menikmati hari yang indah. Kini ia berdiri di salah satu sudut ibu kota. Di hadapannya beberapa orang tampak bekerja keras. Ada yang memecah batu, ada yang mengangkut pasir dan beberapa kegiatan lain.

Pemuda itu kemudian menghampiri salah seorang pekerja. “Apa yang Bapak kerjakan?”

“Hah…!” desah pekerja itu sembari menengok ke pada sang pemuda. “Kau lihat sendiri anak muda. Aku mengangkut batu-batu besar ini untuk dipindahkan ke sisi lain bangunan itu. Betapa berat pekerjaan ini. Tangan dan pundakku sampai melepuh karenanya. Jika bukan karena perintah juraganku tak sudi aku mengerjakan ini semua. Aku berharap segera mendapat pekerjaan lain yang lebih baik,” gerutu pekerja itu dengan bersungut-sungut.

Pemuda itu kemudian bergeser ke sisi lain dari tempat bekerja orang-orang itu. Kini dia menemui pekerja yang lain.

“Selamat siang, Pak!” sapa sang pemuda.

“Selamat siang anak muda!” jawab sang pekerja kedua.

“Apa yang Bapak kerjakan?” tanya sang pemuda.

“Aku sedang mencari nafkah untuk keluargaku, wahai anak muda,” jawab pekerja kedua. “Aku punya istri yang cantik dan dua orang anak yang lucu-lucu. Mereka semua butuh makan dan keperluan lain yang tidak sedikit. Maka aku harus bekerja keras untuk mereka. Memang kadang-kadang terasa berat pekerjaan ini, tapi ini jika ingat mereka semangat bekerjaku menjadi timbul kembali.”

Sang pemuda tersenyum. Kemudian ia berpindah ke sebelah ujung dari lokasi pekerjaan itu. Kini ia menemui seorang pekerja yang tampak sangat ceria. Pekerja itu bekerja sembari bersenandung. Keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya seperti tidak ia rasakan.

“Selamat siang, Pak!” sapa si pemuda.

“Hai, selamat siang anak muda,” balas pekerja ketiga dengan sembari tersenyum cerah.

“Apa yang Bapak kerjakan?” tanya sang pemuda.

“Anak muda, lihatlah. Aku sedang membangun sebuah istana yang megah. Ini akan menjadi istana paling megah di dunia ini,” jawab sang pekerja dengan berapi-api. “Namaku akan dicatat dalam sejarah sebagai orang yang ikut membangun istana termegah di dunia!”

Pemuda itu termangu. Ternyata setiap pekerja itu melihat pekerjaan mereka dengan cara yang berbeda-beda meskipun pekerjaan mereka serupa.

Pembaca budiman, setiap kita memiliki profesi atau pekerjaan yang kita geluti. Ada yang menjadi karyawan pabrik, ada yang menjadi pegawai pemda, ada yang menjadi guru, dokter, pengacara dan masih banyak yang lain lagi. Semua kita bebas memilih pekerjaan yang kita inginkan. Sayangnya, tidak semua kita bisa mewujudkan impian bekerja di bidang yang kita sukai.

Tidak sedikit pula di antara kita yang merasa terjebak pada pekerjaan yang salah. Akhirnya yang terjadi adalah maju kena mundur kena. Mau terus bekerja terasa berat. Mau berganti pekerjaan sudah terlanjur berjalan bertahun-tahun. Simalakama.

Pembaca budiman, percayalah setiap pekerjaan itu mulia. Tidak ada pekerjaan yang hina kecuali pekerjaan yang jelas-jelas terlarang menurut agama. Maka dibutuhkan ketrampilan untuk memaknai setiap pekerjaan agar semangat kerja terus menyala. Boleh jadi pendapatan dan segala fasilitas yang kita dapat tidaklah istimewa, tetapi bila kita bisa menemukan makna mulia dari pekerjaan yang kita geluti semua akan menjadi lain.

Banyak orang bisa menemukan makna mulia dari pekerjaannya. Mereka terus bekerja dengan sepenuh hati, meskipun dengan imbalan yang tidak sepadan.

Almarhum Bapak saya adalah seorang Kepala Sekolah Dasar di kampung saya. Seingat saya, pendapatan beliau tidak besar bahkan boleh dibilang sangat kecil. Tetapi dalam beberapa kali kesempatan Bapak menyampaikan kebanggaannya menjadi guru.

“Kebahagiaan seorang guru itu adalah bila melihat ada muridnya yang bisa jadi orang sukses,” kata Bapak.

Seorang guru selalu punya andil bagi kesuksesan setiap orang. Itulah yang membuat Bapak tetap berangkat menuju sekolah tanpa pernah malas.

Kawan, tugas kita adalah menemukan makna di balik setiap pekerjaan yang kita geluti. Semakin mulia makna dari pekerjaan kita maka akan semakin bersemangat kita di dalam menjalaninya. Jangan pernah berhenti memberi makna di dalam segala setiap aktifitas karena hidup adalah memaknai.

Awang Surya

Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*