JANGAN TAKUT PUNYA CITA-CITA

Semenjak meninggalnya Khadijah dan Abu Thalib, dua orang yang disegani oleh orang-orang kafir Qurays, para penentang Rasulullah semakin represif. Maka, Rasulullah mencoba mencari tempat baru untuk mendapatkan dukungan. Tempat yang dituju adalah Ta’if, sebuah wilayah yang berada kurang lebih 65 km di sebelah tenggara kota Mekkah. Namun, bukan sambutan hangat yang didapat. Rasulullah diusir dan dilempari batu oleh penduduk Ta’if. Dengan semakin tidak kondusifnya keadaan, maka Rasulullah memutuskan agar para sahabat berhijrah ke Yatsrib atau yang sekarang dikenal sebagai Madinah.

Peristiwa yang terjadi di tahun 13 kenabian itu ternyata menjadi titik balik kemenangan Islam. Semenjak peristiwa hijrah itu masjid pertama didirikan oleh Rasulullah, yaitu masjid Quba. Semenjak hijrah pula terbentuk tata masyarakat Islam. Tidak salah jika para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab menyepakati peristiwa hijrahnya Rasulullah dan para sahabat ke Madinah sebagai tahun awal kalender Islam. Kalender itu kemudian kita kenal sebagai kalender Hijriyah.

Sahabat sekalian, mari cermati baik-baik sepenggal kisah di atas.

Saat keadaan tidak lagi kondusif, Rasulullah segera berniat untuk mencari tempat yang lebih baik. Ada keinginan kuat untuk merubah nasib, meski itu harus dilakukan dengan meninggalkan kampung halaman tercinta, yaitu kota Mekkah. Rasulullah tidak hanya menyerah dengan keadaan dan hanya berdoa kepada Allah swt.

Hal ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Setiap pribadi orang beriman harus memiliki keinginan kuat untuk merubah nasib. Orang beriman harus punya hasrat untuk menjadikan kehidupannya di hari esok lebih baik dari hari sekarang. Inilah yang di masa kecil dulu kita namakan cita-cita.

Di masa sekolah SD atau SMP kita terbiasa dengan menuliskan cita-cita. Itu adalah cara guru-guru kita mengajarkan agar muridnya memiliki keinginan menjadi orang yang lebih baik di masa depan. Namun sayang, setelah dewasa amat sedikit dari kita yang masih memiliki cita-cita. Itu artinya banyak orang yang tidak lagi ingin kehidupannya menjadi lebih baik di masa depan. Jangan heran jika kehidupan sebagian orang tidak pernah beranjak menjadi lebih baik.

Jangan pernah meremehkan cita-cita, karena ternyata cita-cita punya dampak besar dalam kehidupan seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard University, USA mengungkapkan fakta yang mengagumkan. Secara singkat hasil penelitian itu seperti di bawah ini:

84% responden tidak punya impian atau cita-cita. Sementara 13% memiliki cita-cita yang spesifik tetapi tidak tertulis. Dan ada 3% orang yang punya cita-cita spesifik dan tertulis. Setelah 10 tahun berlalu, semua responden dilihat perkembangannya. Hasilnya sungguh luar biasa. Kelompok yang punya cita-cita spesifik tetapi tidak menuliskannya, memiliki pendapatan 2x lebih besar dari pada kelompok yang sama sekali tidak memiliki cita-cita. Dan kelompok 3%, yaitu yang punya cita-cita jelas dan menuliskan-nya ternyata penghasilannya 10x lipat dari kelompok yang 97%!

Mudah untuk dipahami mengapa kita perlu menulis cita-cita. Tentu saja agar kita selalu ingat dengan cita-cita itu. Bila semenjak bangun tidur kita sudah melihat tulisan tentang cita-cita kita itu,maka tanpa sadar itu akan masuk alam bawah sadar kita. Orang tua kita, saudara kita atau orang-orang dekat akan melihat tulisan itu. Maka boleh jadi ada di antara mereka yang akan mendoakan agar cita-cita itu tercapai.

Semenjak mengenal ilmu ini, saya kemudian mengajarkan kepada anak-anak agar menuliskan cita-citanya. Dan ketika anak pertama saya duduk di bangku kelas 1 SMA dia menuliskan beberapa cita-citanya. Pada urutan nomor satu dia menulis: UMUR 18 TAHUN, KULIAH DAN BEKERJA DI LUAR NEGERI. Saya senang sekaligus bingung saat membacanya. Senang karena anak saya berani punya cita-cita tinggi, tetapi bingung karena tidak tahu caranya agar anak saya bisa kuliah di luar negeri. Tetapi yang terjadi sungguh ajaib. Tepat di usianya 18 tahun anak saya berangkat ke negeri orang. Dia diterima di perguruan tinggi yang di negara itu mahasiswa boleh bekerja. Anak saya saat ini tengah menuntut ilmu di Sakarya University, Turki. (Seperti terlihat pada foto di atas tulisan ini)

Maka pesan saya kepada Anda semua: JANGAN TAKUT PUNYA CITA-CITA DAN TULISLAH CITA-CITA ANDA.

Awang Surya: Motivator Islam Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*